Prancis dan Spanyol Dilanda Kebakaran Hebat, Evakuasi Massal Dilakukan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gelombang kebakaran hutan yang dipicu cuaca panas ekstrem melanda Prancis dan Spanyol. Puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, sementara pemerintah kedua negara meningkatkan respons darurat karena kobaran api terus meluas dan mengancam kawasan permukiman serta destinasi wisata.

Di Prancis, pemerintah memerintahkan evakuasi total Semenanjung Cap Ferret, destinasi wisata populer di pesisir Atlantik. Sementara di Spanyol, pemerintah untuk pertama kalinya menetapkan status darurat nasional akibat kebakaran hutan setelah sejumlah titik api besar bergabung di wilayah barat Madrid.

Kedua negara, yang dalam beberapa tahun terakhir berulang kali dilanda gelombang panas dan kebakaran hutan, meminta bantuan kepada Uni Eropa untuk mendukung upaya pemadaman karena kapasitas layanan darurat semakin terbebani.


Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan meminta militer membantu operasi pemadaman kebakaran, menurut sumber yang dekat dengan pemerintah.

Sementara itu, status darurat nasional di Spanyol membuka akses terhadap pendanaan pemerintah pusat guna mempercepat penanganan bencana.

Baca Juga: Trump: Kesepakatan Nuklir Batal jika Saudi Tak Gabung Abraham Accords

Pemimpin Regional Madrid, Isabel Diaz Ayuso, menyebut situasi yang terjadi sebagai kebakaran hutan terburuk dalam sejarah wilayah tersebut.

"Ini adalah kebakaran hutan terburuk dalam sejarah wilayah kami. Ini merupakan kombinasi sempurna antara suhu yang sangat tinggi dan angin kencang yang terus bertiup tanpa henti," ujar Ayuso.

Lebih dari 110.000 Orang Dievakuasi di Prancis

Di Prancis barat daya, sekitar 110.000 orang, sebagian besar merupakan wisatawan, diperintahkan meninggalkan wilayah terdampak ketika dua kebakaran besar mengancam permukiman dan area perkemahan.

Pemerintah mengerahkan kapal untuk membantu proses evakuasi warga dari kawasan pesisir.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan kebakaran tersebut memiliki karakteristik yang sangat sulit dikendalikan.

"Ini adalah kebakaran konvektif. Api mampu mempertahankan dirinya sendiri, terus berubah arah, dan kini bergerak terutama ke arah timur menuju kawasan metropolitan Bordeaux," kata Nunez kepada stasiun televisi TF1.

Yoan Urien (26), warga yang meninggalkan rumahnya di Biscarrosse setelah polisi mengeluarkan perintah evakuasi, mengatakan kobaran api terlihat jelas dari tempat tinggalnya.

"Kami bisa melihat awan menjadi semakin gelap dari waktu ke waktu," ujarnya kepada Reuters.

Baca Juga: Korea Selatan Gandeng Nvidia hingga OpenAI, Bidik Jadi Kekuatan AI Global

Marie Duelz (51), wisatawan asal Belgia yang sedang berlibur di Cap Ferret, menggambarkan kondisi langit dipenuhi abu.

"Saya melihat awan abu yang pada dasarnya menutupi sinar matahari," katanya.

Kebakaran besar lainnya yang bermula di Desa Saumos, sebelah utara Cap Ferret, mengancam memutus satu-satunya akses jalan keluar dari semenanjung tersebut.

Menurut Nunez, kebakaran itu telah menjadi yang terbesar di Prancis sepanjang musim ini.

Api telah melahap lebih dari 14.000 hektare hutan, menghancurkan lebih dari 100 rumah dan sebuah area perkemahan.

Corinne Paillaube, seorang perawat keluarga, mengaku sangat terpukul melihat wilayah tempat tinggalnya dilalap api.

"Hati saya hancur. Tempat ini sangat nyaman untuk ditinggali. Melihat semuanya berubah menjadi asap sungguh menyedihkan," ujarnya.

Senada dengan itu, Ambre Dubos, warga dari wilayah Landes, menggambarkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang mengerikan.

"Kondisinya benar-benar seperti kiamat," katanya.

Baca Juga: SpaceX Uji Starship Ke-13, Berhasil Lepaskan 20 Satelit Starlink Generasi Baru

Spanyol Tetapkan Darurat Nasional

Di Spanyol, lebih dari 19.000 orang diperintahkan mengungsi dari sejumlah kota di kawasan pegunungan sebelah barat Madrid.

Lebih dari 2.000 personel dan 10 pesawat pemadam diterjunkan untuk mencegah bergabungnya beberapa titik kebakaran. Namun, upaya tersebut belum berhasil menghentikan penyebaran api.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan pemerintah memutuskan menetapkan status darurat nasional karena skala ancaman terhadap kawasan permukiman semakin besar.

Salah satu pengungsi, Enrique Martin, mengaku nyaris kehilangan nyawa saat melarikan diri dari rumahnya.

"Saya harus berlari keluar dari rumah. Ada bola api besar. Kalau saya terlambat lima menit saja, kami pasti sudah habis," terangnya.

Pemerintah juga mengungkapkan bahwa kebakaran ketiga di Provinsi Avila hampir atau bahkan sudah bergabung dengan dua kebakaran besar di wilayah Madrid.

Polisi Spanyol telah menangkap satu orang dan menyelidiki satu tersangka lainnya yang diduga memicu kebakaran menggunakan alat berat di kawasan yang dilarang.

Menurut Ayuso, sebanyak 43 rumah telah hancur hanya di satu kawasan permukiman.

Perubahan Iklim Perburuk Risiko Kebakaran

Spanyol kini memasuki tahun kedua berturut-turut dengan musim kebakaran yang sangat merusak.

Menteri Lingkungan Hidup Spanyol Sara Aagesen menyatakan lebih dari 29 kebakaran besar telah terjadi sepanjang tahun ini. Luas area yang terbakar mencapai lima kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang sebelumnya sudah mencatat rekor kerusakan.

Baca Juga: Pengadilan Banding AS Tolak Upaya Trump Kenakan Biaya Visa H-1B US$100.000

Data menunjukkan luas lahan yang terbakar di Eropa sepanjang tahun ini telah melampaui rata-rata tahunan selama dua dekade terakhir.

Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan intensitas gelombang panas, kekeringan, serta kebakaran hutan. Kondisi tersebut juga menciptakan cuaca ekstrem yang memicu bencana secara lebih sering dan lebih dahsyat.

Sejumlah negara Eropa turut mengirim bantuan. Yunani mengirim dua pesawat pemadam kebakaran ke Spanyol, Kroasia mengirim pesawat dan personel ke Prancis, sementara Italia mengirim pesawat pemadam ke Tunisia yang juga sedang menghadapi kebakaran hutan.

Gelombang Panas Ancam Pertanian dan Pembangkit Nuklir

Setelah jeda singkat pada akhir pekan, badan meteorologi Prancis, Meteo France, memperkirakan suhu udara akan kembali melonjak tajam pada pekan depan.

Kenaikan suhu diperkirakan menghangatkan sungai-sungai yang digunakan untuk mendinginkan reaktor nuklir sehingga berpotensi mengurangi produksi listrik.

Data operator listrik EDF menunjukkan reaktor nuklir Golfech 2 di Prancis selatan telah berhenti beroperasi sejak 7 Juli akibat pembatasan yang dipicu suhu tinggi.

Gelombang panas yang berlangsung selama beberapa pekan juga mulai berdampak terhadap sektor pertanian, terutama menurunkan kondisi tanaman jagung di Prancis.