KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) atau Primaya Hospital Group berhasil meraih kinerja positif selama paruh pertama 2026. Perusahaan mencatat kenaikan pendapatan menjadi Rp 1,43 triliun, dibandingkan Rp 1,10 triliun pada posisi yang sama tahun sebelumnya. Direktur Utama PRAY Leona A. Karnali mengatakan kenaikan pendapatan PRAY pada periode tersebut didorong oleh performa solid seluruh jaringan rumah sakit perusahaan. Pada saat yang sama, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru mengalami penurunan 31,18% menjadi Rp 58,63 miliar, dari sebelumnya Rp 85,2 miliar di posisi yang sama tahun lalu. Baca Juga: Antrean Mengular di SPBU Sejumlah Wilayah, YLKI: Panic Buying Bukan Alasan Menurut Leona, penurunan laba bersih pada periode ini disebabkan dua faktor utama, berkaitan dengan ekspansi rumah sakit baru perusahaan yang masih dalam tahap ramping up. Pertama, peningkatan beban bunga (interest expense) seiring dengan pendanaan ekspansi melalui fasilitas perbankan. Hal ini tercermin dari kenaikan liabilitas di neraca perusahaan. Kedua, kenaikan signifikan beban depresiasi & amortisasi (D&A) akibat penambahan peralatan medis dan fasilitas baru. Sebagian besar beban ini berasal dari rumah sakit baru, meski sebagian kecil ada yang berasal dari rumah sakit eksisting.
PRAY Kantongi Pendapatan Rp 1,43 Triliun pada Sementer I-2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) atau Primaya Hospital Group berhasil meraih kinerja positif selama paruh pertama 2026. Perusahaan mencatat kenaikan pendapatan menjadi Rp 1,43 triliun, dibandingkan Rp 1,10 triliun pada posisi yang sama tahun sebelumnya. Direktur Utama PRAY Leona A. Karnali mengatakan kenaikan pendapatan PRAY pada periode tersebut didorong oleh performa solid seluruh jaringan rumah sakit perusahaan. Pada saat yang sama, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru mengalami penurunan 31,18% menjadi Rp 58,63 miliar, dari sebelumnya Rp 85,2 miliar di posisi yang sama tahun lalu. Baca Juga: Antrean Mengular di SPBU Sejumlah Wilayah, YLKI: Panic Buying Bukan Alasan Menurut Leona, penurunan laba bersih pada periode ini disebabkan dua faktor utama, berkaitan dengan ekspansi rumah sakit baru perusahaan yang masih dalam tahap ramping up. Pertama, peningkatan beban bunga (interest expense) seiring dengan pendanaan ekspansi melalui fasilitas perbankan. Hal ini tercermin dari kenaikan liabilitas di neraca perusahaan. Kedua, kenaikan signifikan beban depresiasi & amortisasi (D&A) akibat penambahan peralatan medis dan fasilitas baru. Sebagian besar beban ini berasal dari rumah sakit baru, meski sebagian kecil ada yang berasal dari rumah sakit eksisting.