PRDL, JECX Hingga JELI Mulai Masa Penawaran Umum, Mana yang Paling Menarik?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga perusahaan sedang menawarkan saham perdana  kepada publik. Mereka ialah PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI). 

Ketiganya memulai masa penawaran umum pada 1 Juli 2026. Periode penawaran akan berlangsung dalam tiga hari perdagangan Bursa dan berakhir pada Jumat (3/7/2026). 

PRDL menawarkan maksimal 522,90 juta saham di harga IPO Rp 120 per saham. Dus, perusahaan pembuatan dan pengolahan alat kesehatan diagnosis itu berpotensi mengantongi dana segar sebesar Rp 62,74 miliar. 


Baca Juga: BUMI Divestasi CPM ke BRMS, Perkuat Fokus Strategis Portofolio Tambang

Bersamaan aksi korporasi ini, PRDL juga mengadakan Program Alokasi Saham Pegawai atau Employee Stock Allocation (ESA) sebanyak 36,60 juta saham atau setara dengan 7%. 

Kemudian JECX, perusahaan pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics ini menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham di harga Rp 1.250. Ini  setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO.

Dalam aksi korporasi, JECX juga menawarkan 162,88 saham divestasi milik DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) yang mewakili 2% dari modal ditempatkan disetor pasca penawaran umum saham. 

Dengan demikian, dana dari IPO yang berpotensi dikantongi JEXC mencapai Rp 609,97 miliar. Ini terdiri dari Rp 406,65 miliar dari penerbitan saham baru dan Rp 203,32 saham hasil divestasi. 

Bersamaan dengan IPO ini, JECX juga mengadakan program alokasi saham karyawan dengan mengalokasikan saham sebesar 2,29% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO atau setara dengan 11,16 juta. 

Terakhir, JELI menetapkan harga IPO sebesar Rp 900 per saham. Dengan menawarkan 2,66 juta saham baru, perusahaan makanan dan minuman penutup dengan merek INACO ini berpotensi meraup dana segar Rp 239 miliar. 

Berdasarkan prospektusnya, Price to Earning Ratio (PER) JECX sebesar 49,52 kali dan Price to Book Value (PBV) sebesar 4,51 kali. Kemudian pada harga penawaran di Rp 120 per saham, maka PER RPDL mencapai 8,61 kali dan PBV 0,000022 kali. 

Sementara, Tim Riset Ekuitas Ajaib Sekuritas Asia menghitung P/E JELI mencapai 23,06 kali dengan PBV sebesar 6,18 kali. Perhitungan tersebut didasarkan pada laba per saham Rp 39,02 dan nilai buku per saham sebesar Rp 145,52.

Menurut mereka, PRDL menawarkan valuasi yang relatif konservatif dibandingkan emiten sejenis. Di sisi lain, valuasi JELI dan JECX dinilai cukup premium sehingga membutuhkan pembuktian pertumbuhan kinerja agar dapat menopang kenaikan harga saham ke depan.

Baca Juga: Asuransi Dayin Mitra (ASDM) Bagikan Dividen Rp 32 Per Saham, Simak Jadwalnya

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan ketiga calon emiten tersebut menawarkan profil investasi yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan hanya karena sama-sama melaksanakan IPO.

"PRDL tampil sebagai emiten dengan valuasi paling menarik. Sebaliknya, investor JELI membayar premi terhadap efisiensi, sedangkan JECX mengharuskan investor membayar harga yang sangat mahal untuk perusahaan yang masih berada dalam proses memulihkan profitabilitasnya," kata Hendra kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Menurut dia, PRDL menawarkan kombinasi valuasi yang relatif murah dengan profitabilitas yang baik. Namun, investor tetap perlu mencermati skala usaha yang masih kecil dan rekam jejak pertumbuhan laba yang belum konsisten.

Di sisi lain, JELI memiliki kekuatan pada merek INACO dan jaringan distribusi yang luas. Akan tetapi, pertumbuhan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir masih melambat sehingga kenaikan laba lebih banyak ditopang efisiensi biaya.

Baca Juga: Mandatori B50 Jadi Katalis Emiten CPO, Analis Soroti Potensi Kinerja dan Risiko

Sementara itu, JECX memang bergerak di sektor rumah sakit yang defensif. Namun, valuasi sahamnya dinilai sudah cukup premium, sedangkan tingkat pengembalian modal dan pemulihan profitabilitasnya masih belum sebanding.

"Harga murah belum tentu benar-benar murah apabila fundamentalnya rapuh. Sebaliknya, harga yang terlihat mahal belum tentu kemahalan apabila perusahaan mampu menciptakan pertumbuhan laba yang konsisten," ucap Hendra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News