Prediksi IHSG Senin (3/8): Berpeluang Uji Level 6.300, Asing Masih Lakukan Net Sell



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (3/8/2026), meski kenaikannya diperkirakan terbatas.

Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), IHSG ditutup menguat 0,30% ke level 6.236,13.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, secara teknikal tren IHSG masih positif.


Baca Juga: Bisnis Bus Listrik Melaju, Pendapatan VKTR Naik 56% Jadi Rp 647 Miliar

Menurutnya, perbaikan sentimen global dan domestik menjadi faktor utama yang menopang pergerakan indeks.

"Secara teknikal, saya melihat peluang IHSG pada pekan depan masih cenderung bergerak positif. Namun, kenaikannya kemungkinan bersifat terbatas (limited upside)," ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (2/8/2026).

Hendra menjelaskan, sepanjang pekan lalu IHSG menguat 0,64% secara mingguan dan ditutup di level 6.236,13.

Kenaikan tersebut didukung membaiknya kinerja bursa saham global, stabilnya nilai tukar rupiah di kisaran Rp18.022 per dolar AS, serta meningkatnya minat investor terhadap saham-saham teknologi.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat di Agustus 2026, Ini Saham yang Bisa Dicermati

Optimisme terhadap sektor teknologi kembali menguat setelah laporan keuangan Microsoft dan Amazon memperkuat sentimen positif terhadap perkembangan artificial intelligence (AI).

Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa penguatan IHSG masih dibayangi aksi jual investor asing. Dalam sepekan terakhir, investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) sekitar Rp1,4 triliun.

"Ini menunjukkan kenaikan IHSG sejauh ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik. Karena itu, ruang penguatan masih berpotensi terbatas selama arus dana asing belum kembali masuk secara konsisten," jelasnya.

Secara teknikal, Hendra menilai level 6.300 menjadi area resistance psikologis yang penting. Selama sentimen eksternal tetap kondusif dan tidak muncul tekanan baru dari pasar global, IHSG berpeluang menguji level tersebut pada awal pekan.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Tertekan, Efek Data AS dan Pergerakan Yield US Treasury

Di sisi lain, apabila terjadi aksi ambil untung (profit taking), IHSG berpotensi melemah menuju area support terdekat di kisaran 6.186.

"Area gap di kisaran 6.186 menjadi support terdekat yang perlu dijaga. Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang melanjutkan penguatan secara bertahap masih tetap terbuka," katanya.

Dari sisi sentimen, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan inflasi global.

Meski begitu, harga minyak sempat terkoreksi ke kisaran US$87 per barel karena distribusi minyak dinilai masih berjalan normal. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi.

Selain itu, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga tetap menjadi perhatian. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi berpotensi menahan aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa investor asing masih cenderung melakukan aksi jual bersih di pasar saham domestik," ungkap Hendra.

Baca Juga: Aset Investasi Bergerak Fluktuatif pada Juli: Bitcoin Rebound, Obligasi Tertekan

Dari dalam negeri, investor juga menantikan laporan keuangan emiten kuartal II-2026, terutama dari sektor basic industry, infrastruktur, dan komoditas yang mulai menunjukkan perbaikan kinerja.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Hendra memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang yang terbatas dengan kecenderungan menguji resistance di level 6.300 pada awal pekan.

"Selama investor asing masih membukukan net sell dan ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda, pergerakan IHSG kemungkinan masih akan cenderung volatil," tutupnya.

Karena itu, investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham, terutama emiten yang memiliki fundamental kuat dan didukung kinerja keuangan yang solid, sembari terus mencermati perkembangan sentimen global dan arus dana asing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News