Prediksi Nilai Tukar Rupiah Jelang Libur Nasional: Tertekan ke Rp 18.000 per Dolar AS



KONTAN.CO.ID - Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam dan bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot terpantau di level Rp 17.767 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB. Pada pukul 11.45 WIB, mata uang Garuda ini makin loyo ke level Rp 17.790 per dolar AS, yang berarti mencatatkan pelemahan sebesar 0,26% secara harian.

Faktor Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Apa saja faktor sentimen yang menekan mata uang rupiah secara signifikan saat ini?

  • Eskalasi Geopolitik Timur Tengah: Adanya ketidakpastian negosiasi AS-Iran serta potensi serangan militer ke Iran.


  • Ketegangan Global Lainnya: Konflik lanjutan antara Rusia dan Ukraina, serta krisis di kawasan Lebanon.

  • Lonjakan Harga Komoditas Energi: Pergerakan harga minyak mentah jenis WTI yang menembus kisaran US$ 92 per barel.

  • Penyempitan Surplus Perdagangan: Dibarengi oleh meningkatnya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di dalam negeri periode Januari-Mei 2026.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Diskon Transportasi dan Tiket Pesawat untuk Liburan Sekolah 2026

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa eskalasi konflik di berbagai kawasan mendorong investor memburu aset aman seperti dolar AS. Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak, lonjakan energi ini akan meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembiayaan impor, sehingga otomatis memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Pelemahannya begitu mengkhawatirkan, apalagi besok di libur nasional yang kemungkinan besar tekanan eksternal ini akan cukup tinggi. Bank Indonesia (BI) tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara sehingga hanya di pasar internasional. Ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim, Selasa (26/5/2026).

Baca Juga: Kabar Baik! Pemerintah Beri Stimulus untuk Penulis, Tarif PPh Final Hanya 1,5%

Proyeksi Kurs Rupiah dan Imbas Lonjakan Defisit Transaksi Berjalan

Kebutuhan valuta asing yang sangat tinggi di dalam negeri tercermin jelas dari pemburukan indikator makro. Pada kuartal I 2026, transaksi berjalan tercatat defisit sebesar US$ 4,0 miliar atau setara 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025 yang hanya mencatat defisit US$ 2,5 miliar atau 0,7% terhadap PDB.

Berdasarkan hitungan Kontan.co.id, terjadi lonjakan pelebaran defisit transaksi berjalan sebesar US$ 1,5 miliar dalam satu kuartal terakhir. Hal ini masih diperparah oleh surplus neraca perdagangan yang terus menyusut.

Dari sisi domestik, industri yang bergantung pada bahan baku impor mulai merasakan pukulan berat perlambatan ekonomi.

Dengan tekanan ganda dari eksternal dan domestik ini, target pelemahan baru diyakini akan segera tersentuh. Pemerintah diingatkan mewaspadai pandangan investor dan lembaga pemeringkat global jika ruang fiskal semakin menyempit.

Kelemahan cukup tajam ini ini akan berdampak terhadap rupiah dalam minggu ini kemungkinan besar target Rp 18.000 per dolar AS kemungkinan besar akan tercapai,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: