KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen eksternal dan domestik, terutama arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta perkembangan cadangan devisa Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (6/10/2026), rupiah spot berada di level Rp 17.899 per dolar AS, menguat 0,10%. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di level Rp 17.910 per dolar AS pada 6 Oktober 2026. Posisi tersebut menguat 0,039% dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.917 per dolar AS.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai pergerakan rupiah pada Selasa (6/10/2026) masih dipengaruhi oleh respons pasar terhadap data ketenagakerjaan AS dan tingginya permintaan terhadap aset safe haven di tengah konflik geopolitik Timur Tengah.
Baca Juga: ETF Emas Tetap Prospektif di Tengah Ketidakpastian Markoekonomi, Ini Catatan Analis Menurut dia, intervensi pro-market Bank Indonesia turut membantu menahan tekanan terhadap rupiah sehingga mata uang Garuda tidak kembali mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Rahma menjelaskan, arah rupiah pada perdagangan Rabu (7/10/2026) akan sangat ditentukan oleh rilis risalah rapat Federal Reserve (The Fed) serta sejumlah indikator fundamental ekonomi domestik. Di pasar global, investor masih mencari petunjuk mengenai kemungkinan The Fed memangkas atau mempertahankan suku bunga acuannya. Kondisi tersebut berlangsung ketika tingkat imbal hasil US Treasury masih relatif tinggi dan ketegangan geopolitik turut menopang permintaan terhadap dolar AS. Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia periode terbaru yang dijadwalkan disampaikan Bank Indonesia pada 7 Oktober 2026. "Angka cadev ini menjadi indikator penting bagi kecukupan amunisi bank sentral dalam melakukan stabilisasi nilai tukar, yang secara langsung memengaruhi persepsi risiko investor asing terhadap ketahanan makroekonomi nasional," ungkap Rahma kepada Kontan, Selasa (6/10/2026). Selain cadangan devisa, investor juga akan mencermati perkembangan aliran modal asing di pasar keuangan domestik. Efektivitas instrumen moneter BI, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), juga menjadi perhatian untuk melihat kemampuan bank sentral menjaga likuiditas valuta asing (valas). Rahma mengatakan, hasil rilis cadangan devisa akan menjadi salah satu penentu arah rupiah dalam jangka pendek. Apabila posisi cadev tercatat solid dan berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpeluang menguji level support yang lebih kuat.
Baca Juga: Musim Dividen Interim Dimulai, Tiga Saham Ini Tawarkan Yield Menarik Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah dapat kembali meningkat apabila data menunjukkan adanya penurunan likuiditas valas yang mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal. "Dengan sentimen yang bercampur antara antisipasi terhadap arah kebijakan The Fed dan fokus investor pada rilis cadangan devisa domestik, rupiah kemungkinan besar akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cenderung sempit dengan volatilitas yang terjaga," paparnya.
Dengan mempertimbangkan sikap wait and see pelaku pasar, Rahma memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (7/10/2026) akan bergerak dalam kisaran Rp 17.830 hingga Rp 17.960 per dolar AS. Secara teknikal, kecenderungan konsolidasi dengan penguatan terbatas tersebut memiliki level support terdekat di sekitar Rp 17.850 per dolar AS. Sementara itu, area Rp 17.950 hingga Rp 17.980 per dolar AS menjadi batas atas yang perlu dicermati pelaku pasar. Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana pasar merespons kombinasi sentimen global dari kebijakan The Fed dan kondisi geopolitik, serta data fundamental domestik berupa cadangan devisa Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News