Premi Asuransi Jiwa Tradisional Terkoreksi 2,9% pada Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat penurunan premi asuransi jiwa pada produk tradisional sebesar 2,9% secara tahunan dengan nilai menjadi Rp30,10 triliun di kuartal I-2026.

Meski masih menjadi kontributor utama industri asuransi jiwa dengan porsi sebesar 63,68% dari total premi, produk tradisional memang masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Pengamat asuransi, Irvan Rahardjo menjelaskan, penurunan premi asuransi jiwa tradisional dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa di antaranya adalah berkurangnya kontribusi premi dari produk yang dibayar sekaligus (single premium) dan meningkatnya klaim akhir kontrak dari polis yang telah menyelesaikan masa perlindungannya.


Selain itu, fluktuasi pasar keuangan pada awal tahun turut memberikan tekanan terhadap hasil investasi industri asuransi jiwa.

Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa Konvensional Kuasai 90% Total Premi Industri, Tumbuh 4,6%

Di sisi lain, terjadi pula perubahan perilaku nasabah dalam memilih produk asuransi. Masyarakat kini dinilai lebih mengutamakan produk asuransi kesehatan murni dan lebih memperhatikan fleksibilitas keuangan.

"Ya, terdapat perubahan nyata di mana nasabah semakin mengutamakan asuransi kesehatan murni dan menunjukkan preferensi untuk fleksibilitas finansial," jelasnya kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).

Perubahan itu terlihat dari meningkatnya klaim kesehatan yang menurut AAJI naik 15,3% pada kuartal I-2026 seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan di tengah inflasi biaya medis yang terus berlangsung.

Selain itu, bertambahnya aktivitas penarikan sebagian dana investasi atau partial withdrawal dari polis asuransi. Kecenderungan nasabah saat ini melihat asuransi jiwa tidak hanya sebagai proteksi jangka panjang, tetapi sebagai instrumen likuid penyedia dana darurat.

Baca Juga: OJK Ingatkan Kenaikan BI Rate Berefek ke Kinerja Investasi & Likuiditas Asuransi Jiwa

Meskipun premi produk tradisional mengalami kontraksi, Irvan memandang prospeknya masih cukup positif di sisa tahun ini. Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan terus meningkat dan menjadi salah satu faktor yang menopang permintaan produk proteksi.

Selain itu, pergeseran minat masyarakat dari produk unit link ke produk perlindungan murni juga berpotensi mendukung perbaikan kinerja asuransi jiwa tradisional pada sisa tahun ini.

Perlu diketahui juga, pendapatan premi asuransi jiwa memang masih tertekan pada kuartal I-2026 dengan koreksi 0,5% secara tahunan dengan pendapatan premi mencapai Rp47,27 triliun.

Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa Turun 0,5% di Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News