Premi Asuransi Jiwa Turun 0,5% di Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pendapatan premi industri asuransi jiwa masih tertekan sepanjang kuartal I-2026. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), total perolehan premi turun 0,5% secara tahunan (year on year).

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan, pendapatan premi tercatat mencapai Rp 47,27 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan premi asuransi jiwa sebesar Rp 47,50 triliun.

"Kinerja industri asuransi jiwa Indonesia pada kuartal pertama 2026 menunjukkan dinamika yang beragam. Di satu sisi, industri menghadapi tekanan dari kondisi pasar yang memengaruhi beberapa indikator kinerja. Namun fundamental tetap menunjukkan ketahanan yang baik,” katanya dalam konferensi pers di Graha AAJI, Selasa (2/6/2026).


Baca Juga: Di Tengah Gejolak Ekonomi, Gadai Barang Mewah Jadi Alternatif Likuiditas Crazy Rich

Dari sisi produk, asuransi jiwa tradisional masih menjadi penopang utama pendapatan premi. Akan tetapi, nilai preminya terkoreksi 2,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 30,10 triliun.

Sementara itu, untuk produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unitlink pada periode tersebut mencapai Rp 17,17 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 4,1% YoY.

"Komposisi ini mencerminkan keberagaman kebutuhan nasabah serta semakin matangnya preferensi masyarakat dalam memilih produk asuransi atau produk perlindungan yang sesuai," lanjutnya.

Adapun, berdasarkan unit usaha, pendapatan premi dari asuransi jiwa konvensional meningkat 4,6% YoY menjadi sebesar Rp 42,86 triliun dan premi dari asuransi jiwa syariah turun 32,2% YoY dengan nilai mencapai Rp 4,41 triliun.

Dengan demikian secara keseluruhan, pendapatan industri asuransi jiwa per Maret 2026 mencapai Rp 47,63 triliun atau terkontraksi 6,0% secara tahunan. 

Capaian tersebut ditopang oleh pendapatan premi sebesar Rp 47,27 triliun, meski hasil investasi masih mencatatkan nilai negatif Rp 1,60 triliun. Sementara itu, total aset industri tercatat sebesar Rp 652,89 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News