JAKARTA. Keberadaan produk asuransi terorisme dan sabotase dinilai belum banyak diketahui. Makanya potensi pasar yang ada di Indonesia belum digarap secara optimal. Anggota Dewan Pengurus Konsorsium Pengembangan Industri Asuransi Indonesia - Terorisme dan Sabotase (KPIAI-TS) Arizal ER menyebut potensi pasar asuransi terorisme dan sabotase di dalam negeri tiap tahunnya mencapai Rp 60 miliar. Namun, sebagian besar potensi itu terserap oleh perusahaan asuransi asing atau luar negeri. "Namun rata-rata tiap tahun kami hanya dapat premi Rp 6 miliar sampai Rp 7 miliar," kata Arizal, Kamis (22/12). Selama ini mayoritas nasabah produk ini adalah pengusaha commercial building. Itu terutama dari kalangan pusat perbelanjaan.
Premi asuransi terorisme Rp 60 M, 90% lari keluar
JAKARTA. Keberadaan produk asuransi terorisme dan sabotase dinilai belum banyak diketahui. Makanya potensi pasar yang ada di Indonesia belum digarap secara optimal. Anggota Dewan Pengurus Konsorsium Pengembangan Industri Asuransi Indonesia - Terorisme dan Sabotase (KPIAI-TS) Arizal ER menyebut potensi pasar asuransi terorisme dan sabotase di dalam negeri tiap tahunnya mencapai Rp 60 miliar. Namun, sebagian besar potensi itu terserap oleh perusahaan asuransi asing atau luar negeri. "Namun rata-rata tiap tahun kami hanya dapat premi Rp 6 miliar sampai Rp 7 miliar," kata Arizal, Kamis (22/12). Selama ini mayoritas nasabah produk ini adalah pengusaha commercial building. Itu terutama dari kalangan pusat perbelanjaan.