Premi Asuransi Tertekan, Tugure Waspadai Daya Beli dan Properti Lesu di Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) membeberkan sejumlah tantangan yang bisa mempengaruhi pendapatan premi pada 2026.

Direktur Keuangan Tugure Dradjat Irwansyah mengatakan memasuki 2025, industri asuransi nasional menghadapi tantangan yang cukup signifikan, terutama dipicu pertumbuhan yang masih rendah pada lini bisnis properti dan kendaraan bermotor. 

"Selain itu, penurunan daya beli, dinamika pasar otomotif, dan real estate telah memberikan tekanan langsung pada perolehan premi," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (18/3/2026).


Baca Juga: Transaksi QRIS Gopay Melonjak 2,5 Kali Lipat Jelang Lebaran 2026, UMKM Jadi Pemicu

Drajat menerangkan kondisi tersebut diperparah fenomena soft market. Artinya, menunjukkan kompetisi harga yang agresif di pasar sehingga menyebabkan penurunan tarif premi secara umum.

Dia bilang situasi pasar yang makin kompetitif tersebut menuntut perusahaan asuransi untuk lebih cermat dalam mengelola strategi penetapan harga agar tetap relevan di tengah persaingan yang ketat.

Menyongsong 2026, Drajat menilai arah kebijakan industri diprediksi akan mengalami pergeseran paradigma yang fundamental. Dia menilai perusahaan asuransi tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan volume premi secara kuantitatif, melainkan mulai memprioritaskan kesehatan portofolio dan kualitas risiko. 

"Fokus utama kini beralih pada pemenuhan regulasi penguatan ekuitas yang lebih ketat guna menjamin angka solvabilitas alias Risk Based Capital (RBC) yang mumpuni di masa depan," tuturnya.

Drajat mengatakan langkah strategis tersebut diambil untuk memastikan stabilitas keuangan jangka panjang perusahaan. Dengan demikian, kepercayaan pemegang polis tetap terjaga di tengah fluktuasi ekonomi global.

Sementara itu, Tugure tercatat memperoleh kinerja positif terkait pendapatan premi bruto pada 2025. Berdasarkan laporan keuangan di situs resmi, Tugure mencatatkan pendapatan premi bruto sebesar Rp 2,67 triliun pada 2025. Nilainya meningkat 7,66%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,48 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: