Premi Maipark tumbuh 10% sampai September



KONTAN.CO.ID - NUSA DUA. Pertumbuhan premi dobel digit PT Reasuransi Maipark Indonesia masih berlanjut hingga sembilan bulan tahun ini. Maipark optimistis bisa meraup target premi yang telah ditetapkan.

Presiden Direktur Maipark Indonesia Yasril Y. Rasyid mengatakan, hingga periode tersebut pertumbuhan premi Maipark melaju 10% jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Kenaikan tersebut menurut Yasril, disebabkan adanya kenaikan sesi wajib gempa bumi per 1 April dari sebelumnya sebesar 15% menjadi 25%.

Otomatis ini membuat realisasi premi Maipark kian bertambah. Adapun sampai September 2017, Maipark telah merealisasikan premi sebesar 60% dari target Rp 352 miliar.


Sejatinya memang sejak awal tahun, Maipark memasang target premi bisa mencapai Rp 370 miliar. "Kami revisi karena kenaikan sesi gempa bumi baru terealisasi di April bukan Januari," terang Yasril di Nusa Dua Bali, akhir pekan lalu.

Maipark optimistis bisa memenuhi target sampai tutup tahun ini. Yasril percaya industri reasuransi masih akan mencatatkan kinerja cemerlang. Plus, adanya waktu pencatatan produksi yang mundur satu bulan. Ini tentu bisa menambah jumlah premi Maipark di tahun 2017. "Biasanya memang produksi di Desember akan masuk pada Januari 2018, berarti kami masih punya waktu empat bulan," tambah Yasril.

Dengan begitu, manajemen Maipark juga cukup pede melihat prospek industri reasuransi di 2018 mendatang. Jika program asuransi barang milik negara telah terealisasi, Maipark mengincar premi hingga Rp 500 miliar.

Sementara, kontribusi terbesar pendapatan premi Maipark masih pada produk asuransi gempa bumi sebesar 90% sisanya berasal dari ikut serta risiko pasar, produk asuransi pertanian dan sebagainya.

Lalu, portofolio investasi Maipark kini ditempatkan di keranjang Surat Berharga Negara (SBN) 18%, deposito 55%, lalu sisanya saham, reksadana dan properti. "Tahun ini kami siap penuhi ketentuan SBN 20%," imbuh dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati