Premi Reasuransi Semester I-2026 Turun 16,1%, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reasuransi nasional masih menghadapi tekanan sepanjang semester I-2026. Penurunan aktivitas pada sejumlah lini bisnis utama membuat premi reasuransi terkoreksi cukup dalam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengungkapkan, premi reasuransi pada semester I-2026 tercatat sekitar Rp10,51 triliun. Nilai tersebut turun 16,1% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp12,53 triliun.

Menurutnya, penurunan premi reasuransi tersebut dipengaruhi oleh kontraksi pada sejumlah lini bisnis utama, terutama properti, asuransi kredit, dan energi.


Sebagai informasi, selama paruh pertama 2026 AAUI mencatat premi reasuransi properti turun 15,9%, premi reasuransi credit insurance turun 19,4%, dan kategori lainnya atau miscellaneous turun 54%.

Khusus segmen properti, kondisi tersebut sejalan dengan kinerja bisnis asuransi properti pada industri asuransi umum yang juga mengalami koreksi sebesar 13,6%.

Selain itu, lini energy on shore dan energy off shore juga terkoreksi cukup tajam. Masing-masing mencatat penurunan sebesar 53% dan 105,1%.

Baca Juga: Penempatan Dana Bank di SBN Turun 6% MoM, Mulai Ada Rebalancing ke Kredit?

Koreksi pada lini bisnis utama reasuransi dan pengaruhnya dari kinerja asuransi umum dinilai menjadi salah satu faktor kinerja reasuransi masih dibayangi oleh tekanan.

"Perubahan volume bisnis pada perusahaan asuransi tentunya akan berpengaruh terhadap besarnya premi yang diteruskan kepada perusahaan reasuransi," ujarnya kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).

Selain perubahan volume bisnis, premi reasuransi juga dapat dipengaruhi oleh perubahan struktur program reasuransi. Kondisi pasar reasuransi global yang semakin kompetitif turut memberikan pengaruh terhadap perolehan premi perusahaan reasuransi.

Meski sejumlah lini bisnis masih mengalami koreksi, beberapa segmen reasuransi justru mencatat pertumbuhan positif. Premi reasuransi marine cargo tumbuh 4,5%, reasuransi kendaraan bermotor naik 7,1%, reasuransi kesehatan meningkat 18,4%, sedangkan reasuransi suretyship melonjak 204,6%.

Pertumbuhan pada sejumlah lini tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap kapasitas reasuransi masih tersedia, meski berbeda pada setiap lini usaha. Aktivitas perdagangan, kendaraan bermotor, pembiayaan, proyek, serta investasi berpotensi menciptakan eksposur baru yang membutuhkan dukungan reasuransi.

Selain itu, kondisi makroekonomi serta pertumbuhan ekonomi, kredit, dan investasi diharapkan secara bertahap dapat menciptakan kebutuhan pertanggungan baru bagi industri asuransi dan reasuransi.

Baca Juga: BSI International Expo 2026 Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Global

Memasuki semester II-2026, AAUI masih melihat peluang perbaikan kinerja industri reasuransi. Siklus renewal sejumlah bisnis korporasi serta pertumbuhan ekonomi, kredit, investasi, perdagangan, dan pembangunan berpotensi menambah eksposur baru.

Meski demikian, industri reasuransi perlu memperkuat disiplin underwriting, kecukupan pricing, pengelolaan akumulasi risiko, catastrophe modelling, dan kapasitas reasuransi. Penentuan retention dan limit juga perlu disesuaikan dengan risk appetite serta kemampuan permodalan masing-masing perusahaan.

Pasar reasuransi global yang semakin kompetitif juga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan program reasuransi, baik dari sisi harga, syarat dan ketentuan, limit, maupun struktur perlindungan.

Namun, AAUI mengimbau agar optimalisasi tersebut tetap dilakukan secara prudent dengan mempertimbangkan kecukupan perlindungan dan keberlanjutan pengelolaan risiko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News