Presiden Duterte: Kita berperang melawan musuh yang ganas dan tidak terlihat



KONTAN.CO.ID - MANILA. Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Senin (16/3), mengumumkan penguncian Pulau Luzon dan langkah-langkah karantina rumah yang ketat untuk setengah dari populasi negeri Tagalog, untuk memadamkan penyebaran virus corona baru. 

Selain itu, Filipina menutup jaringan transportasi di Pulau Luzon termasuk Ibu Kota Manila dan memerintahkan semua bisnis untuk tutup atau beroperasi dari jarak jauh.

Dalam pengumuman yang disiarkan televisi, Duterte mengatakan, pembatasan perjalanan dan langkah-langkah yang saat ini berjalan tidak cukup untuk menahan penyebaran virus corona. 


Sehingga, sudah waktunya untuk mengunci pulau utama negara itu untuk meminimalkan kontak sosial dan memungkinkan petugas kesehatan bergerak dengan cepat guna mengendalikan penularan Covid-19.

Baca Juga: Filipina lockdown Pulau Luzon, pelanggar karantina bakal ditangkap

Duterte mengatakan kepada para wali kota untuk bertindak tegas guna menegakkan karantina, dan mengatakan, para pelanggar akan ditangkap oleh polisi dan militer juga menghadapi hukuman penjara.

“Jangan salah, kita dalam pertarungan hidup kita,” kata Duterte seperti dikutip Reuters.

“Kita berperang melawan musuh yang ganas dan tidak terlihat. Yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Dalam perang yang luar biasa ini, kita semua adalah prajurit,” tegas Duterte.

Langkah-langkah tersebut akan menjadi salah satu yang paling ketat di Asia. Sebab, negara dengan 107 juta orang berusaha menahan wabah yang meningkat tajam menjadi 187 kasus dari hanya tiga kasus 10 hari yang lalu, dengan 12 kematian.

Baca Juga: Atasi serangan virus corona, Italia kerahkan 10.000 dokter baru

Menteri Kesehatan Filipina menyebutkan, sudah melakukan hampir 1.000 tes sejauh ini. Sejatinya, Filipina sampai 7 Maret atau sudah enam minggu tanpa kasus virus corona terkonfirmasi.

Karantina rumah adalah perluasan dari lockdown Metropolitan Manila yang berlaku minggu lalu, dan menetapkan pembatasan imigrasi yang ketat, jam malam, larangan pertemuan publik, jarak sosial, penutupan mal, serta penghentian pergerakan tidak penting di dalam dan luar kota .

“Saya tidak bisa masuk ke permainan tebak-tebakan. Saya harus bertindak. Jika sudah ada penularan dan kasus-kasus yang perlu ditangani, maka pemerintah dapat bergerak lebih cepat,” ujar Duterte. "Kami diberitahu, bahwa itu benar-benar berbahaya".

Editor: S.S. Kurniawan