Presiden Min Aung Hlaing ke India, Myanmar Cari Penyeimbang Dominasi China



KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Presiden Myanmar Min Aung Hlaing memulai kunjungan resmi lima hari ke India pada Sabtu (30/5/2026), menandai lawatan luar negeri pertamanya sejak beralih dari pemimpin junta militer menjadi presiden sipil. 

Kunjungan ini tidak hanya menjadi upaya Myanmar keluar dari isolasi diplomatik pascakudeta 2021, tetapi juga membuka babak baru persaingan pengaruh antara India dan China di negara tersebut.

Dalam kunjungan itu, Min Aung Hlaing dijadwalkan bertemu Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi untuk membahas berbagai isu bilateral, mulai dari keamanan perbatasan hingga kerja sama ekonomi dan sumber daya mineral strategis.


Baca Juga: Min Aung Hlaing Janjikan Perbaikan Hubungan ASEAN dan Dorong Investasi di Myanmar

Bagi Myanmar, lawatan ini menjadi bagian dari strategi memperbaiki hubungan dengan negara-negara kawasan setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan internasional akibat kudeta yang menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi pada Februari 2021.

Analis senior Myanmar dari Crisis Group, Richard Horsey, menilai Min Aung Hlaing tengah berupaya meningkatkan keterlibatan diplomatik di kawasan setelah resmi menjadi presiden.

"Setelah mengenakan pakaian sipil sebagai presiden, Min Aung Hlaing berupaya memperluas hubungan diplomatik di Kawasan," ujar Horsey.

Menurutnya, Myanmar berharap dapat membangun hubungan yang lebih normal dengan negara-negara ASEAN, terutama dengan dukungan Thailand dan beberapa anggota lainnya. 

Selain India, Min Aung Hlaing juga diperkirakan akan berkunjung ke Beijing dalam waktu dekat untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.

Baca Juga: Kepala Militer Myanmar Min Aung Hlaing Mundur, Mengincar Jabatan Presiden

Kunjungan ke India menjadi penting karena New Delhi merupakan salah satu tetangga strategis Myanmar yang selama ini berusaha menjaga keseimbangan pengaruh China di negara tersebut.

Dari sisi India, kunjungan ini dipandang sebagai peluang untuk memperkuat posisinya di Myanmar sekaligus mengurangi dominasi Beijing. 

Selain itu, India juga memiliki kepentingan besar terhadap cadangan mineral tanah jarang (rare earth) Myanmar yang dibutuhkan untuk berbagai industri teknologi dan energi bersih.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal mengatakan seluruh aspek hubungan bilateral akan menjadi bagian dari pembahasan kedua pemimpin.

Analis menilai akses terhadap sumber daya strategis menjadi salah satu agenda utama India. Selain rare earth, New Delhi juga berkepentingan menjaga stabilitas wilayah perbatasan timur lautnya yang berbatasan langsung dengan Myanmar.

Mantan Duta Besar India untuk Myanmar, Gautam Mukhopadhaya, mengatakan hubungan Myanmar dengan India dan China selama ini dibangun melalui strategi keseimbangan geopolitik.

Baca Juga: Pimpinan Junta Myanmar Ming Aung Hlaing Terpilih Sebagai Presiden oleh Parlemen

"Myanmar cenderung lebih bergantung pada China, tetapi berusaha menyeimbangkannya melalui hubungan dengan India," ujarnya.

Kunjungan ini berlangsung di tengah meningkatnya operasi militer Myanmar di wilayah perbatasan yang kaya mineral tanah jarang dan menjadi jalur perdagangan penting menuju India serta Thailand.

Menurut Horsey, Min Aung Hlaing kemungkinan juga akan meminta dukungan India dalam menghadapi kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di Negara Bagian Chin dan Rakhine, dua wilayah yang berbatasan atau berdekatan dengan India.

Sementara itu, India disebut memiliki kepentingan ekonomi yang semakin besar di Myanmar. 

Selain akses terhadap bahan baku strategis, New Delhi juga melihat peluang investasi dan bisnis di tengah upaya junta memperkuat perekonomian yang tertekan konflik berkepanjangan.

"Inti kepentingan India dalam kunjungan ini adalah apa yang bisa diperoleh dari Myanmar, baik berupa bahan baku, mineral tanah jarang maupun peluang bisnis," kata Mukhopadhaya.

Baca Juga: Min Aung Hlaing Presiden, Militer Myanmar Pegang Kendali Kabinet

Di sisi lain, rezim Myanmar juga membutuhkan investasi dan kerja sama ekonomi untuk memperkuat perusahaan-perusahaan yang terkait dengan militer serta meningkatkan legitimasi pemerintahannya di tingkat regional dan internasional.

Lima tahun setelah kudeta yang membuat Myanmar terisolasi, kunjungan Min Aung Hlaing ke India menunjukkan bahwa Naypyidaw mulai kembali diterima di panggung diplomatik kawasan. 

Namun di balik agenda resmi tersebut, tersimpan pertarungan pengaruh yang semakin intens antara India dan China untuk memperebutkan posisi strategis serta sumber daya penting Myanmar.