Presiden Paraguay Mundur Usai Bank Digital Ueno Kolaps, Jutaan Nasabah Terdampak



KONTAN.CO.ID - Presiden Paraguay Santiago Peña mengundurkan diri pada Kamis (5/11/2026) di tengah tekanan politik yang meningkat menyusul kolapsnya bank digital ueno. Krisis tersebut membuat jutaan nasabah tidak dapat mengakses rekening mereka.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui rekaman video, Peña mengatakan, keputusan mundur diambil dengan mempertimbangkan stabilitas negara, perdamaian sosial, serta perlunya menjaga institusi demokrasi.

Baca Juga: 270.000 Orang Turun ke Jalan, Demonstrasi dan Mogok Kerja Guncang Prancis


"Saya melakukan ini dengan mempertimbangkan stabilitas negara kita, perdamaian sosial, dan kebutuhan untuk menjaga institusi demokrasi," ujar Peña dilansir dari Reuters.

Peña, yang dikenal sebagai sekutu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, memutuskan mundur setelah oposisi menyerukan sidang luar biasa parlemen untuk memulai proses pemakzulan. Desakan pengunduran diri juga datang dari para demonstran.

Tekanan terhadap Peña semakin besar setelah sejumlah anggota partainya sendiri, Partai Colorado yang konservatif, menarik dukungan pada Kamis. Wakil Presiden Pedro Alliana dijadwalkan menggantikan Peña sebagai presiden.

Sebelumnya, anggota parlemen menuding Peña terlibat konflik kepentingan, penyalahgunaan dana pensiun, serta upaya menutupi persoalan kelembagaan terkait kolapsnya ueno.

Bank digital tersebut berkembang pesat dari pemain fintech berskala khusus menjadi bank kelas menengah dengan pengelolaan dana publik hampir US$ 850 juta.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Peña juga menekankan pentingnya memastikan pengembalian dana nasabah dan perlindungan terhadap dana publik.

Baca Juga: The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga Bertahap untuk Tekan Inflasi AS

"Harapan terbesar saya adalah pengembalian dana tersebut dapat dijamin, dana penjamin simpanan dapat menjalankan fungsinya, serta dana publik dan sumber daya milik seluruh rakyat Paraguay terlindungi," katanya.

Bank sentral Paraguay sebelumnya mengambil alih pengawasan ueno setelah menemukan bahwa bank tersebut melanggar ketentuan rasio solvabilitas minimum.

Intervensi tersebut memicu krisis yang berdampak pada sekitar 3 juta nasabah ueno di negara dengan populasi sekitar 6,5 juta jiwa.

Hingga berita ini ditulis, ueno belum menyampaikan pernyataan resmi terkait krisis tersebut.