KONTAN.CO.ID - Pemimpin tertinggi Vietnam To Lam memperingatkan dunia tengah menghadapi tiga krisis global yang saling berkaitan dan berpotensi memperburuk ketidakpastian internasional. Pernyataan itu disampaikan To Lam saat membuka forum pertahanan terbesar di Asia, Shangri-La Dialogue, di Singapura, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Kapal Feri Taiwan–Jepang Diluncurkan di Tengah Ketegangan Geopolitik China Dalam pidatonya, To Lam mengatakan tantangan global saat ini mencakup erosi aturan dan hukum internasional, krisis model pembangunan akibat perlambatan ekonomi dan perubahan iklim, serta krisis kepercayaan antarnegara. “Ketiga krisis yang dihadapi dunia saat ini bukanlah kenyataan yang tak terhindarkan dan harus diterima begitu saja,” ujar To Lam. Ia menyerukan penguatan hukum internasional, penciptaan sumber pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, serta peningkatan dialog dan transparansi antarnegara untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Bulanan Ketiga di Tengah Kekhawatiran Inflasi Shangri-La Dialogue merupakan forum keamanan tahunan yang mempertemukan para menteri pertahanan, petinggi militer, diplomat, analis keamanan, hingga pelaku industri persenjataan dari berbagai negara. Forum yang berlangsung hingga Minggu tersebut dihadiri Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth bersama sejumlah pejabat pertahanan dari Australia, Inggris, Prancis, Jepang, dan negara lainnya. Namun, China kembali absen mengirimkan menteri pertahanannya. Menteri Pertahanan China Dong Jun tidak menghadiri forum tersebut untuk tahun kedua berturut-turut. Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menilai minimnya kehadiran China menjadi kesempatan yang hilang untuk membangun komunikasi dengan negara-negara lain. “China hanya mengirim para ahli dan akademisi dari Tentara Pembebasan Rakyat,” ujarnya.
Baca Juga: UPDATE-Dolar Menuju Pelemahan Mingguan, Pasar Sambut Positif Negosiasi AS-Iran Pidato To Lam di Shangri-La Dialogue menjadi salah satu penampilan internasional paling menonjol dari pemimpin Vietnam yang selama ini dikenal relatif tertutup dalam diplomasi global. To Lam baru dilantik sebagai presiden Vietnam bulan lalu, selain tetap menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam. Kombinasi jabatan tersebut membuatnya menjadi pemimpin paling kuat di Vietnam dalam beberapa dekade terakhir sekaligus memberinya ruang lebih besar untuk memainkan peran diplomatik di panggung internasional.