KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) sedang memulai masa penawaran umum saham
perdana alias Initial Public Offering (IPO) pada 1–3 Juli 2026. Di mana, PRDL mematok harga IPO sebesar Rp 120 per saham. Perusahaan pembuatan dan pengolahan alat kesehatan diagnosis itu menawarkan 522,90 juta saham. Adapun jumlah itu setara dengan 30% dari modal disetor dan ditempatkan penuh pasca IPO. Dengan demikian, perusahaan pembuatan dan pengolahan alat kesehatan diagnosis itu berpotensi mengantongi dana segar sebesar Rp 62,74 miliar. Dana IPO bakal digunakan PRDL untuk beberapa hal.
Baca Juga: Saham Emiten yang Menggelar Buyback Masih Turun, Ini Penyebabnya Berdasarkan prospektusnya, dengan harga IPO di Rp 120 per saham,
Price to Earning Ratio (PER) PRDL mencapai 8,61 kali. Sementara itu,
Price to Book Value (PBV) PRDL berada di level 0,000022 kali. Direktur Utama Prodia Diagnostic Line Cristina Sandjaja menyampaikan PRDL memiliki lebih dari 1.083 SKU produk dan menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota serta telah digunakan oleh lebih dari 7.611 pelanggan di Indonesia. “Jaringan tersebut mencakup sekitar 6.924 puskesmas, 288 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta puluhan institusi kesehatan lainnya,” jelasnya dalam Stock Idea Talks Sucor Sekuritas, Rabu (1/7). Cristina bilang prospek industri kesehatan juga masih sangat menjanjikan. Di mana, pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp 244 triliun pada 2026 serta menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau sekitar 140 juta penduduk. Didukung lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia dan meningkatnya fokus pemerintah terhadap deteksi dini penyakit, Cristina bilang industri in vitro diagnostics diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan. “Dengan jaringan distribusi yang telah mencakup hampir seluruh Indonesia serta dukungan produk ber-TKDN tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan layanan kesehatan nasional,” katanya.
Melansir kinerja tahun buku 2025, PRDL membukukan pendapatan sebesar Rp 74,4 miliar atau meningkat 27% secara tahunan. Dari sisi
bottom line, laba bersih PRDL melonjak 70,7% secara tahunan menjadi Rp 16,9 miliar. Dengan fundamental bisnis dan prospek industri yang masih terbuka, Cristina optimistis pihaknya dapat memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis dan meningkatkan kapasitas operasional.
Baca Juga: PRDL, JECX Hingga JELI Mulai Masa Penawaran Umum, Mana yang Paling Menarik? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News