Prodia (PRDA) Cetak Laba Rp 77,6 Miliar, Analis Yakin Kinerja Terjaga Hingga 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) diperkirakan masih melanjutkan tren pertumbuhan kinerja hingga Semester II-2026, setelah mencatatkan hasil solid pada paruh pertama tahun ini.

Pada semester I-2026, PRDA membukukan pendapatan sebesar Rp 1,11 triliun atau tumbuh 8,5% secara tahunan. Laba bersih juga meningkat 11,4% secara year on year (yoy) menjadi Rp 77,6 miliar, ditopang oleh peningkatan permintaan tes esoterik serta kenaikan jumlah kunjungan pasien.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai prospek kinerja PRDA pada Semester II-2026 masih cukup positif. Hal ini didukung oleh akselerasi pertumbuhan pendapatan serta realisasi kinerja yang telah melampaui target semester pertama.


Baca Juga: Garuda Indonesia (GIAA) Beberkan Perkembangan Rencana Konsolidasi dengan Pelita Air

“Kinerja PRDA menunjukkan percepatan dari kuartal ke kuartal. Dengan capaian Semester I yang sudah melampaui target pendapatan tahunan, ruang untuk mempertahankan kinerja hingga akhir tahun masih terbuka,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Manajemen PRDA menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 4%-6% dan laba bersih 10%-14% sepanjang 2026. Dengan realisasi semester I yang telah mencapai pertumbuhan pendapatan 8,5% dan laba bersih 11,4%, perseroan dinilai berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target tersebut.

Dari sisi operasional, PRDA akan melanjutkan strategi peningkatan product mix, disiplin biaya, serta optimalisasi produktivitas aset melalui Value-Driven Growth Strategy. Perseroan juga berencana membuka 2-3 outlet baru pada Semester II-2026, melanjutkan ekspansi jaringan yang telah mencapai 392 outlet per Juni 2026.

Thoriq menambahkan, tes diagnostik presisi atau esoterik masih menjadi pendorong utama pertumbuhan PRDA. Pada Semester I-2026, segmen ini menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan, seiring dengan peningkatan jumlah kunjungan sebesar 9,7% YoY.

“Tes esoterik berperan sebagai motor pertumbuhan jangka pendek, sementara pengembangan layanan diagnostik presisi menjadi sumber pertumbuhan jangka menengah hingga panjang,” jelasnya.

Presiden Direktur PRDA, Liana Kuswandi, dalam keterangan resmi menyampaikan bahwa pertumbuhan kinerja juga didukung oleh peningkatan volume layanan. Hingga Juni 2026, Prodia telah melayani hampir 10 juta tes, dengan pertumbuhan penjualan tes esoterik yang lebih tinggi dibandingkan dengan layanan lainnya.

Seiring dengan pertumbuhan tersebut, PRDA juga terus mengembangkan layanan diagnostik presisi melalui berbagai inisiatif seperti Prodia Clinical Multiomics Centre, Integrative Autoimmune & Allergy Clinics, serta Stemcell Clinic.

Dari sisi profitabilitas, efisiensi operasional dinilai menjadi kunci untuk menjaga margin di tengah potensi tekanan biaya. Thoriq menyebutkan bahwa peningkatan laba PRDA lebih banyak didorong oleh efisiensi dibandingkan dengan kenaikan tarif layanan.

“Perseroan memastikan tidak akan menaikkan tarif hingga akhir 2026, sehingga perbaikan margin bergantung pada efisiensi biaya dan optimalisasi operasional,” ujarnya.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan mencerminkan operating leverage yang positif.

“Namun, pelemahan rupiah tetap menjadi risiko utama karena dapat meningkatkan biaya reagen dan alat diagnostik impor,” jelasnya.

Dari sisi valuasi, saham PRDA dinilai masih menarik. Thoriq mencatat bahwa secara fundamental PRDA diperdagangkan dengan valuasi yang relatif lebih murah dibandingkan sektor, namun memiliki profitabilitas yang lebih baik.

Meski demikian, harga saham PRDA masih terkoreksi sekitar 18,71% YoY, sehingga membuka peluang re-rating apabila kinerja positif terus berlanjut.

Baca Juga: Bunga The Fed Ditahan, Bitcoin Ada di Zona Konsolidasi Begini Strategi yang Cocok

Untuk rekomendasi, Thoriq memberikan rating buy on weakness dengan target harga di kisaran Rp2.450-Rp2.510 per saham dan stop loss di Rp 2.300 per saham.

Secara keseluruhan, PRDA dinilai memiliki prospek yang solid pada Semester II-2026, ditopang oleh pertumbuhan permintaan layanan diagnostik presisi, strategi ekspansi, serta efisiensi operasional yang berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News