Prodia (PRDA) Nilai Dampak Pelemahan Rupiah Terbatas, Bisnis Tetap Terjaga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) memastikan bisnis laboratorium klinik tetap stabil hingga akhir 2026 meski di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik global.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengakui, perusahaan masih memiliki ketergantungan terhadap impor bahan dan peralatan.

Namun, risiko nilai tukar dinilai dapat dikelola melalui kontrak kerja sama yang telah disepakati sebelumnya.


Baca Juga: Prodia (PRDA) Resmikan Stemcell Clinic, Perkuat Layanan Terapi Regeneratif

“Memang banyak impor, tetapi pembatasan risiko rupiah sudah diatur dalam MoU dan kontrak. Jadi sampai saat ini masih aman,” ujar Dewi saat peresmian Stemcell Clinic by Prodia di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, sejumlah kontrak pengadaan bahkan memberikan jaminan stabilitas harga hingga enam bulan ke depan, bahkan sebagian hingga akhir tahun.

“Dampaknya ada, tetapi tidak terlalu besar,” imbuhnya.

Di sisi kinerja, Prodia mencatat hasil yang relatif solid sepanjang 2025. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun, tumbuh 1,31% secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh segmen pemeriksaan rutin sebagai kontributor utama, serta peningkatan layanan esoterik yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Baca Juga: Pertamina Ungkap Alasan Naikkan Harga Tiga Produk BBM, Tapi Tahan Harga Pertamax 92

Dewi menyebut capaian tersebut mencerminkan efektivitas strategi perusahaan dalam mendorong inovasi dan memperkuat ekosistem layanan.

“Pendapatan Rp 2,28 triliun mencerminkan strategi kami dalam mengakselerasi inovasi, memperkuat ekosistem digital, dan mengoptimalkan jaringan layanan,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Dari sisi profitabilitas, laba bersih Prodia tercatat Rp 207 miliar pada 2025. Sementara itu, laba usaha mencapai Rp 225 miliar dan laba sebelum pajak sebesar Rp 264 miliar.

Pada sisi neraca, total aset perseroan mencapai Rp 2,70 triliun, dengan liabilitas Rp 302 miliar dan ekuitas sebesar Rp 2,39 triliun, mencerminkan struktur permodalan yang sehat.

Arus kas operasi juga tercatat kuat, mencapai Rp 424 miliar, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dari bisnis inti.

Baca Juga: Pakai Solar Subsidi, Angkutan Logistik Tidak Terdampak Lonjakan Harga Solar Industri

Sepanjang 2025, Prodia merealisasikan belanja modal (capex) lebih dari Rp 165 miliar yang digunakan untuk pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital.

 
PRDA Chart by TradingView

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News