Prodia Widyahusada (PRDA) Akan Gelar Stock Split, Intip Kinerja dan Valuasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten kesehatan, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) menyiapkan aksi pemecahan nilai nominal saham alias stock split dengan rasio 1:5, setelah mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan pada semester pertama 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan pada 15 Oktober 2026, aksi stock split akan ini mengubah nilai nominal saham PRDA dari Rp 100 menjadi Rp 20 per saham.

Dus, jumlah saham ditempatkan dan disetor PRDA juga bakal meningkat dari 937,5 juta saham menjadi 4,69 miliar saham. Manajemen PRDA berharap aksi korporasi dapat membuat harga saham PRDA terjangkau bagi investor ritel.


Baca Juga: Usai Jual Murah, Low Tuck Kwong Tak Segan Beli Lagi Saham BYAN dengan Harga Mahal

Rencana stock split tersebut didukung oleh pertumbuhan kinerja keuangan PRDA. Pada semester I-2026, Prodia membukukan pendapatan bersih Rp 1,11 triliun atau naik 8,50% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Dari sisi segmen bisnis, pemeriksaan esoterik menjadi salah satu penopang kinerja Prodia. Segmen tersebut mencatatkan pendapatan Rp 277,74 miliar, tumbuh 14,07% YoY pada semester pertama tahun ini.

Secara tahunan, pendapatan Prodia juga tumbuh konsisten selama 2023–2025. Pendapatan meningkat dari Rp 2,22 triliun pada 2023 menjadi Rp 2,25 triliun pada 2024, lalu mencapai Rp 2,28 triliun pada 2025.

Laba usaha Prodia meningkat 38,91% YoY menjadi Rp 88,35 miliar. Sementara itu, dari sisi bottom line, laba bersih perusahaan laboratorium klinik tersebut tumbuh 11,45% YoY menjadi Rp 77,57 miliar.

Jika ditarik beberapa tahun sebelumnya, laba bersih PRDA pada 2025 mencapai Rp 206,8 miliar yang turun dari Rp 270,2 miliar pada 2024. Pada 2023, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 259,9 miliar.

Baca Juga: Wall Street Menguat, Investor Beralih dari Saham AI ke Sektor Kesehatan

Adapun PRDA mengincar pendapatan bersih konsolidasian tumbuh positif hingga akhir 2026. Untuk itu,, PRDA tengah memperkuat rantai pasok alat kesehatan, mengembangkan layanan pengobatan regeneratif, serta memodernisasi sistem operasional dan mengadopsi kecerdasan buatan.

PTDA juga memperkuat lini pengobatan regeneratif melalui PT Prodia Stemcell Indonesia atau ProSTEM, termasuk kerja sama layanan Stemcell Clinics by Prodia. Sementara itu, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), entitas asosiasi PRDA, telah melantai di BEI pada 9 Juli 2026.

Dari sisi valuasi, saham PRDA memiliki rasio price to earnings (PER) 14,63 kali dan price to book value (PBV) 1,34 kali. Angka tersebut berada di bawah rata-rata industri, dengan PER 20,66 kali dan PBV 2,55 kali.

Struktur keuangan PTDA juga ditopang posisi kas dan deposito sebesar Rp 646,13 miliar per 30 Juni 2026. Adapun rasio utang terhadap ekuitas atau debt-to-equity ratio (DER) tercatat sebesar 0,12 kali.

Sebelum stock split, PRDA juga menjalankan program pembelian kembali saham atau buyback pada 20 Agustus hingga 19 November 2026. Perusahaan mengalokasikan dana dari kas internal hingga maksimal Rp 150 miliar untuk mendukung stabilitas harga saham di tengah fluktuasi pasar.

Pada penutupan perdagangan Kamis (15/10/2026), saham PRDA berada di level Rp 3.350 per saham, naik 1,21% dibandingkan penutupan sebelumnya. Dalam tiga bulan terakhir, saham PRDA telah menguat 40,76%.

Dengan asumsi harga saham Rp 3.350 per saham, harga teoritis PRDA setelah stock split dengan rasio 1:5 menjadi sekitar Rp 670 per saham. Namun, stock split tidak mengubah nilai investasi pemegang saham secara langsung karena jumlah saham bertambah seiring penyesuaian harga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News