KONTAN.CO.ID - CEO CME Group Terry Duffy memperingatkan bahwa keputusan regulator AS mengizinkan perdagangan futures kripto perpetual (
perpetual futures) berpotensi menciptakan risiko baru bagi sistem keuangan. Berbicara dalam konferensi
Global Exchange & Fintech pada Kamis (4/6), Duffy mengkritik langkah
Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang memberikan lampu hijau kepada produk tersebut. "Ini adalah bencana yang sedang menunggu untuk terjadi," kata Duffy, seperti dikutip
Reuters.
Menurutnya, pasar saat ini mulai didominasi aktivitas spekulatif dibanding fungsi utamanya sebagai sarana pengelolaan risiko. "Saya percaya pasar telah digantikan oleh pasar spekulasi, dan itu tidak menguntungkan siapa pun," ujarnya.
Baca Juga: Booming IPO India, Raksasa Asing Justru Tarik Dana Miliaran Dolar Pernyataan itu muncul setelah Coinbase dan Kalshi bulan lalu mengumumkan peluncuran futures kripto perpetual setelah mendapat persetujuan dari CFTC. Ini menjadi pertama kalinya produk tersebut tersedia bagi investor AS melalui bursa domestik yang teregulasi.
Perpetual futures merupakan kontrak derivatif tanpa tanggal jatuh tempo yang memungkinkan investor mempertahankan posisi tanpa batas waktu. Produk ini juga dikenal menawarkan
leverage tinggi, bahkan bisa mencapai 50 kali modal. Duffy menilai
leverage yang besar serta mekanisme likuidasi otomatis yang umum digunakan pada produk tersebut dapat menimbulkan risiko bagi investor ritel, terutama bagi mereka yang belum sepenuhnya memahami biaya pendanaan atau
funding rate.
Baca Juga: Saham Bursa AS Anjlok Usai Perpetual Futures Kripto Disetujui Regulator Selain menyoroti risikonya, Duffy juga mengkritik proses persetujuan CFTC yang dinilainya terlalu cepat untuk instrumen yang tergolong baru dan kompleks.
Meski begitu, ia tidak melihat
perpetual futures sebagai ancaman besar bagi bisnis CME dalam waktu dekat. Menurut Duffy, 85%-90% bisnis CME berasal dari investor institusi, sementara permintaan institusional terhadap produk tersebut masih terbatas. Komentar Duffy muncul di tengah tekanan terhadap saham operator bursa seperti CME Group, Cboe, dan
Intercontinental Exchange, setelah investor khawatir keputusan CFTC dapat memunculkan pesaing baru bagi pasar derivatif tradisional.
Baca Juga: Saham MU Naik 7% Usai Kabar Keluarga Glazer Pertimbangkan Penjualan