KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kelapa Indonesia memiliki peluang meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk dan pengembangan pasar ekspor. Peluang tersebut sejalan dengan dorongan hilirisasi kelapa nasional serta meningkatnya permintaan terhadap produk olahan berbasis kelapa. Processing Director Malaysia, Singapore, Philippines & Indonesia (MSPI), Tetra Pak, Hemang Dholakia, mengatakan, peluang pertumbuhan produk kelapa di Indonesia dan Asia Tenggara semakin terbuka, khususnya pada kategori air kelapa dan krim kelapa. Baca Juga: Industri Hadapi Kenaikan Harga Gas, Pemerintah Dorong LNG Storage “Kami melihat peluang pertumbuhan yang kuat untuk produk kelapa di Indonesia dan Asia Tenggara, khususnya pada kategori air kelapa dan krim kelapa yang terus berkembang,” ujar Hemang dalam keterangan resminya, Selasa (6/10/2026). Tetra Pak menyebut Indonesia memproduksi sekitar 2,1 juta ton kelapa per tahun. Pemerintah juga telah mengumumkan rencana pengembangan 151.554 hektare kawasan hilirisasi kelapa di 28 provinsi. Di sisi lain, peluang diversifikasi produk turut didorong perubahan preferensi konsumen. Minuman siap minum berbasis kelapa yang dipadukan dengan teh, kopi, minuman energi, dan minuman olahraga mencatat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR sebesar 42% pada 2022-2025. Sementara itu, pasar air kelapa dan krim kelapa global masing-masing diproyeksikan mencapai €4,7 miliar dan €3,9 miliar pada 2029. Hemang mengatakan, Tetra Pak memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam pengolahan kelapa. Lini pengolahan yang fleksibel dapat digunakan untuk menangani air kelapa maupun krim kelapa. “Dengan menggabungkan keahlian kami dalam aplikasi pangan dengan lini pengolahan yang fleksibel untuk menangani air kelapa maupun krim kelapa, kami dapat membantu pelanggan mendiversifikasi portofolio, meningkatkan efisiensi, mengurangi kehilangan, serta menciptakan nilai tambahan dari produk samping,” tuturnya. Menurut dia, solusi pengolahan tersebut juga dapat dipadukan dengan kemasan siap ekspor untuk membuka peluang pasar baru. Baca Juga: Era Kecerdasan Buatan, Qualcomm Memperluas Pasar Chipset Snapdragon “Dipadukan dengan kemasan siap ekspor, solusi ini dapat membantu produsen membuka peluang baru di pasar domestik dan internasional,” ujar Hemang. Dari sisi pengemasan, Tetra Pak menyebut kemasan karton mencakup 59% pasar air kelapa global. Pada 2025, perusahaan memasok lebih dari 2 miliar kemasan minuman kelapa dan air kelapa secara global. Kemasan aseptik memungkinkan produk berbasis kelapa didistribusikan pada suhu ruang tanpa bergantung pada rantai dingin. Kondisi tersebut dapat membantu produsen menyederhanakan proses logistik sekaligus menjangkau ritel modern dan pasar ekspor. Tetra Pak akan menghadirkan solusi pengolahan dan pengemasan tersebut dalam World Coconut Day 2026 di Manado, Sulawesi Utara, pada 7-10 Oktober 2026. Ajang yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan International Coconut Community (ICC) tersebut diperkirakan mempertemukan lebih dari 700 peserta dari lebih dari 20 negara.
Produk Olahan Kelapa Kian Diminati, Tetra Pak Dorong Pengolahan untuk Pasar Ekspor
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kelapa Indonesia memiliki peluang meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk dan pengembangan pasar ekspor. Peluang tersebut sejalan dengan dorongan hilirisasi kelapa nasional serta meningkatnya permintaan terhadap produk olahan berbasis kelapa. Processing Director Malaysia, Singapore, Philippines & Indonesia (MSPI), Tetra Pak, Hemang Dholakia, mengatakan, peluang pertumbuhan produk kelapa di Indonesia dan Asia Tenggara semakin terbuka, khususnya pada kategori air kelapa dan krim kelapa. Baca Juga: Industri Hadapi Kenaikan Harga Gas, Pemerintah Dorong LNG Storage “Kami melihat peluang pertumbuhan yang kuat untuk produk kelapa di Indonesia dan Asia Tenggara, khususnya pada kategori air kelapa dan krim kelapa yang terus berkembang,” ujar Hemang dalam keterangan resminya, Selasa (6/10/2026). Tetra Pak menyebut Indonesia memproduksi sekitar 2,1 juta ton kelapa per tahun. Pemerintah juga telah mengumumkan rencana pengembangan 151.554 hektare kawasan hilirisasi kelapa di 28 provinsi. Di sisi lain, peluang diversifikasi produk turut didorong perubahan preferensi konsumen. Minuman siap minum berbasis kelapa yang dipadukan dengan teh, kopi, minuman energi, dan minuman olahraga mencatat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR sebesar 42% pada 2022-2025. Sementara itu, pasar air kelapa dan krim kelapa global masing-masing diproyeksikan mencapai €4,7 miliar dan €3,9 miliar pada 2029. Hemang mengatakan, Tetra Pak memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam pengolahan kelapa. Lini pengolahan yang fleksibel dapat digunakan untuk menangani air kelapa maupun krim kelapa. “Dengan menggabungkan keahlian kami dalam aplikasi pangan dengan lini pengolahan yang fleksibel untuk menangani air kelapa maupun krim kelapa, kami dapat membantu pelanggan mendiversifikasi portofolio, meningkatkan efisiensi, mengurangi kehilangan, serta menciptakan nilai tambahan dari produk samping,” tuturnya. Menurut dia, solusi pengolahan tersebut juga dapat dipadukan dengan kemasan siap ekspor untuk membuka peluang pasar baru. Baca Juga: Era Kecerdasan Buatan, Qualcomm Memperluas Pasar Chipset Snapdragon “Dipadukan dengan kemasan siap ekspor, solusi ini dapat membantu produsen membuka peluang baru di pasar domestik dan internasional,” ujar Hemang. Dari sisi pengemasan, Tetra Pak menyebut kemasan karton mencakup 59% pasar air kelapa global. Pada 2025, perusahaan memasok lebih dari 2 miliar kemasan minuman kelapa dan air kelapa secara global. Kemasan aseptik memungkinkan produk berbasis kelapa didistribusikan pada suhu ruang tanpa bergantung pada rantai dingin. Kondisi tersebut dapat membantu produsen menyederhanakan proses logistik sekaligus menjangkau ritel modern dan pasar ekspor. Tetra Pak akan menghadirkan solusi pengolahan dan pengemasan tersebut dalam World Coconut Day 2026 di Manado, Sulawesi Utara, pada 7-10 Oktober 2026. Ajang yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan International Coconut Community (ICC) tersebut diperkirakan mempertemukan lebih dari 700 peserta dari lebih dari 20 negara.
TAG: