Produk unitlink kurang diminati saat pandemi, kenapa?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk unitlink dalam industri asuransi jiwa tampaknya mulai kurang diminati saat ini. Hal tersebut tampak dari kontribusi produk unitlink masih di bawah produk tradisional yang saat ini memang lebih banyak diminati terutama saat pandemi covid-19.

Misalnya saja, BNI Life yang mengakui ada penurunan premi yang didapat dari produk unitlink. Sayangnya, Direktur Keuangan BNI Life Eben Eser Nainggolan tidak menyebutkan persentase penurunan namun mengatakan bahwa pendapatan premi dari produk unitlink mencapai Rp 867 miliar sampai Juli 2021 ini.

Eben juga menyebutkan, penurunan premi itu juga dipengaruhi oleh beberapa nasabah yang mengajukan surrender. Sampai dengan Juli 2021, pemegang polis unitlink ada sebanyak sebesar 114,560 polis atau turun 4,83%.


“Kondisi pandemi saat ini banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan tidak dapat penghasilan dari usahanya maka untuk kelangsungan hidup mereka biasanya mencairkan dananya,” ujar Eben kepada Kontan.co.id, Senin (30/8).

Baca Juga: Di tengah pandemi, produk asuransi jiwa tradisional masih dilirik pasar

Hingga akhir tahun, BNI Life menargetkan pendapatan premi unitlink bisa mencapai sebesar Rp 1,58 triliun. Namun, produk tradisional BNI Life masih memberikan kontribusi sebesar 67% dari total pendapatan premi.

Serupa, produk unitlink Generali Indonesia juga memiliki kontribusi premi yang tidak dominan dengan hanya memiliki porsi sebesar 48%. Sementara itu, hingga semester pertama 2021 perolehan premi unitlink mencapai lebih dari Rp 710 miliar.

Hanya saja, CMO Generali Indonesia Vivin Arbianti menyebutkan produk unitlinknya masih terus bertumbuh meski tak menyebutkan angka pertumbuhannya. Ia bilang kontribusi terbesarnya berasal dari dua produknya, yakni iPLAN dan GenSMART. 

“Di tengah pandemi ini, minat pada unitlink juga tumbuh dengan semakin pulihnya kondisi ekonomi dan iklim investasi Indonesia,” ujar Vivin.

Selain itu, Vivin juga menyebutkan pertumbuhan pemegang polis unitlink masih terus bertumbuh. Hanya saja, ia tidak menampik ada beberapa nasabah yang juga melakukan surrender.

“Namun itu disebabkan jatuh tempo polis,” ungkap Vivin.

Selanjutnya: Waspadai Praktik Mis-Selling dalam Penjualan Produk Bancassurance

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi