Produksi bakal naik, batubara menukik



JAKARTA. Koreksi batubara tampaknya belum akan segera berakhir. Tapi dalam jangka pendek, fundamental komoditas ini masih bisa mendorong harga rebound.

Mengutip Bloomberg, Jumat (2/12), harga batubara kontrak pengiriman Desember 2016 di ICE Futures Exchange tergerus 0,34% jadi US$ 87,40 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir harganya juga sudah merosot 5,51%.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tri Wibowo menjelaskan, koreksi harga terjadi lantaran harga minyak mentah belakangan ini melesat cukup tinggi. Ditambah lagi, harga gas alam saat ini masih rendah.


Alhasil, harga batubara semakin terpojok. "Rencana China menggenjot produksi juga masih membayangi batubara, sehingga koreksi terus berlanjut," papar Wahyu. Laporan analisis Citigroup Inc juga menyebut harga batubara masih bearish hingga 2017.

Untungnya, sentimen cuaca bisa menopang harga. "Saat ini beberapa negara mulai memasuki musim dingin, dan ada indikasi terjadinya musim dingin ekstrem di beberapa wilayah," kata dia.

Selain itu, permintaan batubara China mulai naik lagi. Di Oktober 2016, impor batubara China dari Korea Selatan naik 1,23% jadi 1,82 juta ton dibanding bulan sebelumnya. 

Di samping itu, bila menilik secara historis, harga batubara tidak banyak terpengaruh oleh penguatan dollar AS dan isu kenaikan suku bunga The Fed. Faktor utama yang mempengaruhi harga adalah faktor fundamental.

Ibrahim, Direktur Garuda Berjangka, menambahkan, insiden kecelakaan tambang di Northeast China yang menewaskan 32 tenaga kerjanya juga dapat membuat produksi batubara terhenti sementara. Hal ini bisa mengikis produksi dalam negeri China.

"Distribusi pun akan terganggu sehingga sentimennya bisa positif ke harga," tutur Ibrahim. Belum lagi, langkah PBB memberikan sanksi pemangkasan ekspor hingga 60% bagi Korea Utara sepanjang 2017 mendatang juga akan mengurangi pasokan global.

Editor: Yudho Winarto