Produksi banjir, harga minyak tergelincir



JAKARTA. Harga minyak mentah dunia terus merosot. Senin (14/11) per pukul 19.04 WIB, harga minyak mentah WTI kontrak pengiriman Desember 2016 di New York Mercantile Exchange merosot 1,22% dibanding harga penutupan Jumat lalu jadi US$ 43,26 per barel.

Padahal, awal bulan ini harga minyak masih US$ 46,86 per barel.

Analis Finex Berjangka Nanang Wahyudin mengatakan, secara fundamental, harga minyak memang sedang tertekan. Maklum, produksi minyak membanjir.


Iran melaporkan produksi minyaknya Oktober lalu melesat menjadi 3,92 juta barel per hari. Irak pun melaporkan terjadi kenaikan produksi di Oktober sebesar 215.000 barel per hari menjadi 4,77 juta barel per hari.

Efeknya, produksi OPEC Oktober 2016 terangkat 236.700 barel per hari menjadi 33,64 juta barel per hari. “Kenaikan ini jelas memberi tekanan signifikan pada harga, apalagi belum terlihat serapan permintaan minyak yang besar di pasar,” jelas Nanang.

Analis memprediksi harga minyak hari ini (15/11) masih turun. Apalagi, laporan Baker Hughes menyebut rig pengeboran aktif minyak mentah AS pekan lalu naik dua unit jadi 452 rig.

Kenaikan jumlah rig aktif ini bisa mengarah pada kenaikan produksi AS. Sentimen negatif yang kian besar membuat pasar pesimistis OPEC bakal menyepakati pemangkasan produksi. Negara yang tergabung dalam OPEC akan mengadakan pertemuan pada 30 November ini guna membahas kesepakatan pemangkasan produksi itu.

Hitungan Nanang, untuk memberikan keseimbangan pada harga saat ini, setidaknya OPEC harus memangkas produksi sekitar 640.000–1,1 juta barel per hari. Jika nantinya tidak ada kesepakatan, harga minyak bakal tambah merosot.

“Harga minyak akan sulit bertahan di atas US$ 50 per barel di akhir 2016,” analisa Nanang.

Permintaan minim

Menurut Research & Analyst Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar, bila rencana pemangkasan gagal, harga minyak bisa turun ke bawah US$ 40 juta per barel. Tapi kalau kesepakatan berhasil dicapai, minyak bergerak kembali di kisaran US$ 45 per barel–US$ 55 per barel.

Cuma, jangan lupa, minyak juga bakal terpengaruh kebijakan The Fed soal suku bunga. Bila bunga The Fed naik, dampaknya bagi harga minyak negatif. Apalagi, kebijakan Presiden AS terbaru, Donald Trump, diprediksi masih akan menguntungkan posisi USD.

Untunglah, Energy Information Administration (EIA) memprediksi produksi minyak negara non-OPEC akan turun 900.000 barel per hari tahun ini. “Tapi tetap perlu melihat permintaan ke depan, kalau seperti sekarang, harga tetap sulit naik signifikan,” ungkap Nanang.

Dari sisi teknikal, Deddy menganalisa minyak masih akan bergerak di bawah MA 50, MA 100 dan MA 200. Garis MACD juga bergerak di area negatif. Sedangkan stochastic dan RSI berada di area oversold.

Minyak masih menunjukkan tren bearish. Deddy memprediksi hari ini minyak bergerak di kisaran US$ 40,25–US$ 42,60 per barel. Nanang memprediksi, harga minyak sepekan ke depan bergerak antara US$ 39,00–US$ 45,00 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie