KONTAN.CO.ID - Produksi batubara China merosot pada Juli 2026 dan kembali ke level era pandemi. Penurunan tersebut terjadi di tengah pengetatan pemeriksaan keselamatan setelah kecelakaan tambang yang menewaskan puluhan pekerja. Mengutip
Reuters, Senin (17/8/2026), data Biro Statistik Nasional China menunjukkan, produksi batubara negara tersebut mencapai 343,21 juta ton pada Juli 2026, turun 10,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Bursa Global Menguat, Dolar Tertekan karena Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Mereda Realisasi tersebut menjadi produksi bulanan terendah sejak September 2021. Perhitungan tersebut tidak memasukkan Januari dan Februari karena data produksi batubara pada kedua bulan tersebut dilaporkan secara gabungan untuk mengurangi dampak libur Tahun Baru Imlek terhadap aktivitas produksi. Secara kumulatif, produksi batubara China sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai sekitar 2,7 miliar ton, turun 2,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. China merupakan produsen batubara terbesar di dunia. Penurunan produksi tersebut terutama dipengaruhi oleh pemeriksaan keselamatan yang semakin ketat di sejumlah tambang. Kecelakaan Tambang Picu Inspeksi Pengetatan pengawasan dilakukan setelah kecelakaan maut terjadi di tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi, pada Mei lalu. Sebanyak 82 orang tewas dalam ledakan gas di tambang tersebut. Insiden itu menjadi kecelakaan pertambangan paling mematikan di China dalam 15 tahun terakhir. Pasca kejadian, sejumlah tambang di Shanxi yang merupakan salah satu wilayah utama penghasil batubara China ditutup sementara untuk menjalani pemeriksaan keselamatan.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Terkoreksi Senin (17/8), Saham Bank dan Ritel Anjlok Investigasi awal terhadap kecelakaan tersebut menemukan adanya dugaan pelanggaran serius. Media pemerintah China melaporkan tambang tersebut menggunakan terowongan tersembunyi dan pintu palsu untuk menyembunyikan sejumlah area tambang dari pengawasan regulator. Kondisi tersebut mendorong otoritas China memperketat pengawasan terhadap aktivitas pertambangan, yang pada akhirnya turut menekan produksi batubara nasional. Penurunan produksi pada Juli menjadi salah satu indikator penting bagi pasar energi, mengingat China merupakan konsumen batubara terbesar dunia. Perlambatan produksi juga dapat memengaruhi pasokan domestik serta dinamika harga batubara di pasar global.