KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi beras nasional pada awal 2026 diperkirakan turun. Center of Reform on Economics (CORE) menilai penurunan produksi beras ini dipicu faktor struktural di lapangan, terutama penyusutan luas panen akibat pola cuaca yang tidak ideal. Pengamat Pertanian CORE Eliza Mardian memperkirakan, potensi penurunan produksi beras Januari–Mei 2026 sekitar 2,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu tidak disebabkan oleh turunnya produktivitas, tetapi karena luas panen yang menyusut.
“Ada potensi penurunan produksi Januari–Mei sekitar 2,22% dibanding tahun lalu. Penyebab utamanya karena luas panen juga turun, bukan karena produktivitas,” kata Eliza kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: Pemerintah Klaim Stok Beras Aman, El Nino Godzilla Intai Produksi Eliza menyebut, koreksi produksi terutama terjadi pada periode Maret–Mei yang merupakan puncak musim panen. Pada periode ini, luas panen turun cukup dalam sehingga produksi ikut terkoreksi signifikan. Menurut Eliza, kondisi tersebut berkaitan erat dengan dinamika cuaca. Pada Februari hingga Maret, curah hujan berada pada level menengah hingga tinggi yang mengganggu proses tanam dan memicu keterlambatan. Namun memasuki April hingga Mei, terutama di Pulau Jawa sebagai sentra produksi, curah hujan justru turun ke kategori rendah–menengah sehingga meningkatkan risiko kekeringan pada fase akhir tanaman. “Jadi yang terjadi bukan sekadar kekeringan atau banjir, melainkan kombinasi pola musim yang tidak ideal, dari terlalu basah di awal lalu relatif cepat mengering. Ini mengganggu siklus tanam dan panen,” kata Eliza. Indikasi gangguan juga tercermin dari data Kerangka Sampel Area (KSA). Pada Februari 2026, masih banyak lahan yang belum memasuki fase panen atau masih dalam kondisi standing crop. Hal ini menunjukkan adanya keterlambatan panen yang berpotensi bergeser ke bulan berikutnya dan tidak tercatat dalam periode Januari–Mei.
Baca Juga: Stok Beras Tembus 4,3 Juta Ton, Pemerintah Siap Hadapi Kemarau 2026 Di tengah tekanan produksi tersebut, Perum Bulog memastikan cadangan beras pemerintah (CBP) dalam kondisi aman. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, stok beras saat ini telah mencapai sekitar 4,38 juta ton dan telah tersimpan di gudang. “Ini stok kita 4.387.469 ton, dan ini sudah berada di gudang Bulog semua,” katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (2/4/2026). Dengan level tersebut, Bulog menilai ketersediaan beras nasional masih mencukupi untuk meredam potensi gejolak pasokan. “Masyarakat tidak perlu
panic buying atau khawatir karena stok kita cukup banyak,” tegasnya. Bulog juga mencatat kapasitas gudang mencapai sekitar 5,58 juta ton, dengan sisa ruang sekitar 1,22 juta ton. Untuk memperkuat daya tampung, perusahaan tengah menyiapkan pembangunan 100 gudang baru pada 2026. Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi adanya potensi penurunan produksi beras pada awal tahun. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan produksi beras Januari–Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton, turun sekitar 0,38 juta ton atau 2,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Produksi beras sepanjang Januari-Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,38 juta ton,” kata Ateng dalam rilis BPS, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Pasokan Pangan Pascalebaran Terjaga, Stok Beras Bulog Tembus 3,7 Juta Ton Penurunan tersebut terutama terjadi pada periode Maret–Mei 2026, dengan produksi diproyeksikan hanya 11,91 juta ton atau turun 11,11% secara tahunan. Sejalan dengan itu, produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) juga turun menjadi 20,68 juta ton. Ateng menegaskan proyeksi tersebut masih bersifat dinamis dan sangat bergantung pada kondisi di lapangan. “Ketika ada serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, atau pergeseran waktu panen, maka ini akan mengalami perubahan,” kata Ateng. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News