KONTAN.CO.ID - Raksasa tambang asal Brasil, Vale, mencatat produksi bijih besi sebesar 336,1 juta metrik ton sepanjang 2025. Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir dan untuk pertama kalinya sejak 2018, produksi Vale melampaui operasi Pilbara milik pesaing utamanya, Rio Tinto, di Australia. Produksi Vale naik 2,6% dibandingkan 2024, sejalan dengan proyeksi perusahaan pada Desember lalu yang menargetkan sekitar 335 juta ton.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat, Ditopang Kenaikan Harga Komoditas Jelang Data Inflasi Pada kuartal IV-2025, produksi mencapai 90,4 juta ton, meningkat 6% secara tahunan (
year-on-year/YoY). Analis menilai kinerja Vale, yang juga menambang tembaga dan nikel, melampaui ekspektasi. Citi dan RBC memperkirakan revisi naik konsensus laba inti kuartal IV masing-masing sekitar 2% dan 7%. Laporan keuangan kuartal tersebut dijadwalkan rilis pada Februari. Vale vs Rio Tinto Vale kehilangan posisi sebagai produsen bijih besi terbesar dunia pada 2019, setelah runtuhnya bendungan tailing di Brumadinho, Brasil, yang menewaskan lebih dari 250 orang dan memicu peninjauan besar-besaran terhadap standar keselamatan proyek perusahaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir Vale terus meningkatkan kapasitas produksinya. Pada 2025, perusahaan membukukan output tertinggi sejak 2018.
Baca Juga: Proyeksi Emas US$ 6.000: Ini Alasan Bank Sentral & Investor Terus Memburu Si Kuning! CEO Vale Gustavo Pimenta sebelumnya menyatakan ambisi perusahaan untuk merebut kembali posisi sebagai produsen bijih besi terbesar di dunia. Rio Tinto pekan lalu melaporkan produksi bijih besi 2025 dari tambang andalannya di Pilbara sebesar 327,3 juta ton. Jika termasuk operasi di Kanada, total produksi bijih besi Rio Tinto mencapai 336,6 juta ton sedikit di atas Vale. Rio Tinto diperkirakan tetap unggul pada 2026 dengan tambahan produksi baru dari Guinea. Pada 2018, terakhir kali Vale melampaui produksi Pilbara, perusahaan Brasil itu menghasilkan 384,6 juta ton, sementara produksi Pilbara Rio Tinto mencapai 337,8 juta ton. Untuk 2026, Vale menegaskan proyeksi produksi bijih besi di kisaran 335 juta hingga 345 juta ton. Dalam laporannya, Vale menyebut kinerja kuat kompleks tambang Brucutu serta peningkatan produksi (ramp-up) di proyek Capanema dan VGR1 seluruhnya berlokasi di Brasil sebagai pendorong utama produksi kuartalan. Vale juga melaporkan penjualan bijih besi sebesar 314,4 juta ton sepanjang 2025, naik 2,5% dari 2024. Pada kuartal IV, pengiriman meningkat 4,5% menjadi 84,9 juta ton.
Baca Juga: Jam Kiamat Semakin Maju: Ini Alasan Dunia Kini Makin Dekat Kiamat Produksi Tembaga Juga Tertinggi 7 Tahun Selain bijih besi, produksi tembaga Vale melonjak hampir 10% pada 2025 menjadi sekitar 382.400 ton tertinggi sejak 2018 dan melampaui proyeksi perusahaan sebelumnya sebesar 370.000 ton.
Vale, yang menargetkan hampir menggandakan produksi tembaganya pada 2035, menyebut produksi di kompleks tambang tembaga utama Salobo, Brasil, mencetak rekor tertinggi pada kuartal IV. Sementara itu, produksi nikel mencapai sekitar 177.200 ton pada 2025, tertinggi sejak 2022 dan meningkat hampir 11%. Angka ini juga melampaui proyeksi perusahaan sebesar 175.000 ton.