KONTAN.CO.ID - Produksi biofuel global diperkirakan melonjak hampir 70% pada 2030 dibandingkan level 2025. Lonjakan tersebut dipicu oleh upaya sejumlah negara meningkatkan penggunaan biofuel untuk memperkuat ketahanan energi di tengah krisis energi akibat perang Iran. Melansir
Reuters, proyeksi tersebut berdasarkan studi yang diterbitkan pada Selasa (22/9/2026) dan disusun bersama oleh lembaga pemikir berbasis di London, Chatham House, serta organisasi nirlaba sertifikasi
Forest Stewardship Council (FSC).
Biofuel seperti etanol dapat diproduksi dari berbagai bahan baku organik, meski selama ini banyak menggunakan tanaman pangan atau bahan pakan ternak.
Baca Juga: Dilarang Meliput di Gedung Putih, Sejumlah Media Menggugat Donald Trump dan Kabinet Bahan bakar nabati tersebut umumnya dicampurkan dengan bensin atau solar dan menjadi semakin kompetitif ketika harga bahan bakar fosil meningkat. Sejumlah negara, termasuk Brasil, China, India, Indonesia dan Amerika Serikat, serta Uni Eropa, telah mengusulkan atau menerapkan peningkatan kewajiban pencampuran biofuel sejak perang Iran pecah. Para penulis studi memperkirakan kebutuhan lahan untuk memproduksi bahan baku biofuel dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030 dibandingkan 2023 jika seluruh kebijakan pencampuran yang diusulkan diterapkan sepenuhnya. Kebutuhan tambahan lahan tersebut diperkirakan mencapai 36 juta hektare atau setara dengan luas wilayah Jerman. “Kecepatan peningkatan mandat biofuel menciptakan risiko signifikan karena permintaan bahan baku dapat meningkat lebih cepat dibandingkan penerapan perlindungan lingkungan, sistem sertifikasi, perencanaan penggunaan lahan, dan mekanisme penegakan,” kata penulis studi tersebut. Studi itu juga memperingatkan bahwa peningkatan permintaan biofuel berpotensi menimbulkan tekanan baru terhadap ketahanan pangan.
Baca Juga: Peringatan Bank Global: Chatbot AI untuk Belanja Online Tingkatkan Risiko Penipuan Kebijakan yang mengutamakan keamanan energi dalam jangka pendek dinilai berisiko menimbulkan konsekuensi terhadap ketersediaan pangan dalam jangka menengah. Risiko tersebut dapat semakin besar apabila terjadi gangguan lain, seperti cuaca ekstrem, yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan. Bahan baku yang ditanam di lahan terdegradasi atau di antara musim tanam dapat membantu mengurangi degradasi lahan dan bahkan memulihkan kondisi tanah. Namun, kondisi tersebut belum umum diterapkan pada biofuel konvensional atau generasi pertama. Biofuel generasi pertama umumnya menggunakan tanaman pangan dan pakan seperti jagung dan tebu. Sementara itu, biofuel generasi kedua atau biofuel maju menggunakan residu organik dan limbah, seperti minyak jelantah. Menurut studi tersebut, produksi bahan baku untuk biofuel generasi pertama cenderung menimbulkan dampak negatif bersih terhadap degradasi lahan, ketahanan pangan dan penggunaan air.
Baca Juga: Jane Street Rugi US$15 Miliar, The Fed dan BoE Cek Risiko Bank Global Kenaikan produksi biofuel juga terjadi ketika harga komoditas energi dan pangan meningkat. Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, harga minyak mentah telah naik hampir 40%, sedangkan harga gula dan jagung masing-masing meningkat sekitar 20%. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya tekanan ganda bagi negara yang meningkatkan penggunaan biofuel. Di satu sisi, biofuel dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi. Namun di sisi lain, peningkatan kebutuhan bahan baku dapat memperbesar persaingan penggunaan lahan dengan sektor pangan serta menambah tekanan terhadap harga komoditas pertanian.