KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi minyak sawit mentah (
crude palm oil atau CPO) Indonesia yang mencapai sekitar 53 juta ton per tahun dinilai menjadi modal besar untuk memperkuat pengembangan industri pangan berbasis sawit. Kapasitas produksi tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati di dalam negeri, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi produk pangan.
Baca Juga: Indonesia Punya Potensi Biomassa Sawit Terbesar di Dunia, Hilirisasi Jadi Kunci Kepala Pusat South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center IPB University Puspo Edi Giriwono mengatakan, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sekaligus salah satu pemasok utama minyak nabati di pasar global. "Minyak sawit kita mampu memenuhi kebutuhan Indonesia secara 100 persen, bahkan surplus dan dapat memenuhi kebutuhan minyak nabati global," ujar Puspo di Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Menurut Puspo, peran industri kelapa sawit akan semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Ia memperkirakan populasi global akan mencapai sekitar 10 miliar hingga 11 miliar jiwa pada 2050, sehingga kebutuhan minyak nabati diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 250 juta ton per tahun. Dalam kondisi keterbatasan lahan, peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit dinilai menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia tanpa mendorong perluasan deforestasi. "Apa komoditas yang bisa sangat produktif dengan kondisi lahan semakin berkurang? Produktivitas kelapa sawit akan menjawab dan menyuplai kebutuhan populasi dunia yang mencapai 10-11 miliar tadi," katanya.
Baca Juga: Leapmotor Resmikan Dealer Perdana di Indonesia, Perkuat Ekspansi Mobil Listrik di RI Ruang hilirisasi masih terbuka Selain memiliki produktivitas tinggi, Puspo menilai pengembangan industri hilir sawit di sektor pangan masih memiliki ruang yang sangat besar. Saat ini, minyak sawit telah digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan, mulai dari minyak goreng, margarin, cokelat, hingga aneka makanan olahan. Namun, menurutnya, Indonesia masih dapat mengembangkan lebih banyak produk turunan dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Ia mencontohkan, industri pangan di sejumlah negara mampu mengolah bahan baku hingga melalui sekitar 10 tahapan proses lanjutan sehingga menghasilkan produk yang lebih spesifik dan bernilai ekonomi lebih tinggi. "Semua yang Anda makan itu ada minyak sawit karena minyak sawit begitu fleksibel dan memiliki harga yang sangat terjangkau," ujarnya.
Baca Juga: Grup Djarum Dikabarkan Incar Akuisisi Kecap Bango, Unilever Belum Berkomentar BPDP dorong hilirisasi produk pangan Untuk mempercepat hilirisasi industri sawit, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menjalankan Program Pangan dan Hilirisasi. Program tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah produk sawit melalui pendanaan riset, pengembangan infrastruktur, serta penguatan kemitraan industri. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri sawit yang inovatif dan berkelanjutan, khususnya di sektor pangan. Salah satu produk yang dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan adalah minyak sawit merah (
red palm oil). Menurut Puspo, minyak sawit merah memiliki potensi tinggi karena mengandung antioksidan, beta-karoten, dan vitamin E dalam jumlah besar, sehingga tidak hanya menawarkan nilai ekonomi yang lebih tinggi tetapi juga manfaat kesehatan.
Baca Juga: Valvoline Manfaatkan Momentum FIFA World Cup 2026 untuk Perkuat Pasar Indonesia "Kalau dari pangan sendiri, saya melihat minyak sawit merah mengandung antioksidan yang sangat tinggi dan bermanfaat untuk kesehatan. Kita dorong supaya minyak sawit merah bisa dioptimalkan dengan baik," katanya. Ia menambahkan, minyak sawit merah juga berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program kesehatan, seperti meningkatkan fungsi kognitif, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, hingga membantu upaya pemerintah dalam mengatasi stunting melalui perbaikan asupan gizi. "Minyak sawit merah itu bisa meningkatkan fungsi kognitif. Kita bisa memanfaatkan minyak sawit merah untuk membantu mengatasi persoalan stunting sekaligus memperbaiki gizi anak-anak Indonesia," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News