KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatatkan lonjakan produksi emas sebesar 69% secara kuartalan menjadi 26.331 ons pada kuartal III-2026, seiring peningkatan kapasitas Tambang Emas Pani di Gorontalo. Peningkatan produksi tersebut didukung proses
ramp-up fasilitas heap leach yang mulai beroperasi sejak Februari 2026. Entitas usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini juga mencatatkan perbaikan efisiensi biaya selama periode tersebut. Presiden Direktur EMAS Merdeka Gold Resources P. Abidin menyampaikan peningkatan kapasitas operasi Tambang Emas Pani menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi produksi maupun efisiensi operasional.
Baca Juga: Perusahaan Raffi Ahmad dan Nagita (VISI) Dapat Pinjaman Rp 45 Miliar dari Bank Ina “Kuartal ketiga ini menunjukkan stabilitas peningkatan kapasitas di Tambang Emas Pani, yang ditandai dengan angka produksi lebih tinggi, kinerja operasional yang lebih kuat, serta efisiensi biaya yang membaik,” tulisnya dalam keterangan resmi, Senin (2/11). Secara bulanan, produksi logam mulia EMAS mencapai 10.952 ons pada September 2026, meningkat 12% dibandingkan Agustus. Sementara itu, produksi emas selama dua pekan pertama Oktober mencapai 6.190 ons. Berdasarkan capaian tersebut, EMAS memperkirakan tingkat produksi tahunan dapat mencapai sekitar 149.000 ons. EMAS memproyeksikan produksi gabungan selama 2026 dan 2027 melampaui 250.000 ons. Seiring peningkatan produksi, EMAS juga berhasil menekan biaya operasional. Biaya tunai atau cash cost di luar royalti dan kredit perak turun 13% secara kuartalan menjadi US$ 778 per ons. Adapun total biaya pemeliharaan menyeluruh atau
all-in sustaining cost (AISC) turun 12% menjadi US$ 1.281 per ons. Perseroan memperkirakan biaya produksi masih berfluktuasi selama proses peningkatan kapasitas berlangsung. Dari sisi pengembangan, EMAS mulai membangun fasilitas pengolahan
carbon-in-leach (CIL) Tahap I di Tambang Emas Pani. Jika tidak ada aral melintang, fasilitas tersebut ditargetkan menjalani
commissioning pada 2028. Boyke menjelaskan, proyek CIL telah beralih dari tahap rekayasa teknik menuju konstruksi. Adapun EMAS telah menyelesaikan
basic engineering, menyiapkan peralatan utama, serta mulai memobilisasi kontraktor konstruksi.
Baca Juga: BEI Gandeng Surveyor Indonesia, Perkuat Kesiapan Calon Emiten Sebelum IPO “Proyek CIL kini beralih dari tahap rekayasa teknik ke tahap konstruksi, yang menjadi langkah penting bagi fase pertumbuhan Perseroan selanjutnya,” kata dia. Fasilitas CIL Tahap I dirancang memiliki kapasitas pemrosesan hingga 14,4 juta ton bijih per tahun. EMAS juga tengah mematangkan rencana pembangunan CIL Tahap II dengan kapasitas serupa. Jika kedua fasilitas beroperasi, EMAS menargetkan kapasitas produksi emas tahunan dari fasilitas CIL mencapai sekitar 500.000 ons hingga 700.000 ons, di luar kontribusi operasi
heap leach yang sudah berjalan. Selain ekspansi fasilitas pengolahan, EMAS juga mengalokasikan anggaran eksplorasi sebesar US$ 11,4 juta untuk 2027. Program tersebut mencakup pengeboran sepanjang 50.000 meter guna memperluas basis sumber daya emas Pani. Lebih lanjut,hasil pengeboran mengonfirmasi perpanjangan mineralisasi emas di area Pani Deeps, serta tambahan mineralisasi di Pani Gap dan Kolokoa Tahap II.
Untuk 2027, EMAS memperkirakan produksi emas akan jauh melampaui estimasi sebelumnya sebesar 150.000 ons. Namun, realisasi target tersebut masih bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Di sisi biaya, manajemen EMAS mempertahankan target
cash cost sebesar US$ 900-US$ 1.100 per ons, di luar royalti dan kredit perak. Sementara itu, target AISC dipatok sebesar US$ 1.300-US$ 1.450 per ons.
Baca Juga: Nikel dan Emas Jadi Andalan, MDKA Raup Penjualan US$ 817,3 Juta pada Kuartal III-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News