Produksi Gas AS Bakal Cetak Rekor Lagi, Permintaan LNG dan Pusat Data Melonjak



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Produksi gas alam Amerika Serikat (AS) bersiap mencetak rekor baru. Lonjakan permintaan ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dan kebutuhan listrik pusat data menjadi mesin utama pertumbuhan produksi gas Negeri Paman Sam.

Laporan Reuters (27/10/2026), perusahaan energi AS memperkirakan produksi gas alam akan kembali mencapai rekor tertinggi pada 2026. Jika terwujud, ini menjadi tahun kedua berturut-turut produksi gas AS menorehkan rekor.

Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) memproyeksikan produksi gas alam AS meningkat dari 107,6 miliar kaki kubik per hari (billion cubic feet per day/bcfd) pada 2025 menjadi 112,2 bcfd pada 2026. Produksi diperkirakan terus menanjak hingga 116,1 bcfd pada 2027.


Kenaikan produksi tersebut sejalan dengan kebutuhan gas yang terus membengkak. EIA memperkirakan total permintaan gas AS mencapai 120 bcfd pada 2026, naik dari 116,5 bcfd pada 2025. Salah satu pendorong utamanya adalah ekspor LNG yang diproyeksikan melonjak 17%.

Wakil Presiden Minyak dan Gas Amerika Utara Rystad Energy Matthew Bernstein mengatakan, tambahan pasokan gas terutama berasal dari wilayah Permian dan Haynesville.

"Sebagian besar pertumbuhan produksi berasal dari gas ikutan minyak di Permian serta produksi gas di Haynesville," ujar Bernstein.

Menurut Bernstein, peningkatan produksi gas di Permian tidak lepas dari aktivitas pengeboran minyak yang semakin agresif. Apalagi, gangguan pasokan akibat perang yang melibatkan Iran turut mengerek harga minyak mentah AS ke level tertinggi dalam empat tahun.

Kondisi ini mendorong perusahaan energi meningkatkan produksi minyak sekaligus gas untuk memenuhi kebutuhan pasar global.

Baca Juga: Raksasa Barang Konsumsi Dunia Bersiap Naikkan Harga

Genjot efisiensi

Di tengah prospek permintaan yang menguat, tiga produsen gas terbesar AS, yakni Expand Energy, EQT, dan Range Resources, memilih menjaga disiplin belanja modal sambil meningkatkan produksi.

Expand Energy, produsen gas terbesar AS saat ini, menargetkan produksi setara 7,4 miliar hingga 7,6 miliar kaki kubik per hari pada 2026. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan menyiapkan investasi sekitar US$ 2,75 miliar hingga US$ 2,95 miliar.

Anggaran tersebut relatif setara dengan belanja pada 2025, ketika perusahaan menargetkan produksi rata-rata 7,2 miliar kaki kubik setara gas per hari.

Dari sisi kinerja, berdasarkan estimasi LSEG, laba bersih Expand Energy pada kuartal III-2026 diperkirakan mencapai US$ 304,3 juta, meningkat dari laba bersih disesuaikan sebesar US$ 234 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, EQT juga berupaya meningkatkan produksi dengan belanja lebih hemat. Perusahaan memangkas panduan belanja modal pemeliharaan 2026 sebesar US$ 25 juta menjadi US$ 2,04 miliar hingga US$ 2,19 miliar.

Meski anggaran dipangkas, EQT justru menaikkan target produksi menjadi rata-rata 6,5 miliar hingga 6,7 miliar kaki kubik setara gas per hari.

Namun, kinerja laba EQT diperkirakan masih tertekan. LSEG memproyeksikan laba bersih kuartal III-2026 sebesar US$ 255,4 juta, turun dari laba bersih disesuaikan US$ 328,6 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun Range Resources diperkirakan membukukan laba bersih US$ 188,4 juta pada kuartal III-2026, meningkat dari laba bersih disesuaikan sebesar US$ 135,2 juta setahun sebelumnya.

Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru Tahan Suku Bunga 2,75%, Meski Buka Peluang Pengetatan