Produksi Gula Thailand Turun, Gapmmi Minta Aturan Pasokan Lebih Fleksibel



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia mulai mengantisipasi potensi tekanan pasokan gula global setelah produksi gula Thailand diproyeksikan turun pada musim 2026-2027.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, penurunan produksi gula Thailand perlu diantisipasi oleh pelaku industri. Meski demikian, menurut dia, Indonesia masih memiliki alternatif sumber pasokan dari negara lain seperti Brasil dan Australia.

"Jadi saya denger karena El Nino katanya. Ya kita antisipasi, tapi saya denger dari negara lain masih bisa, dari Brazil, dari Australia dan lain sebagainya," kata Adhi saat ditemui di Jiexpo Kemayoran, Rabu (16/9/2026).


Baca Juga: Komisi XII DPR Wanti-Wanti ke Menteri Bahlil: Hati-Hati Mengenai RKAB Batubara

Sebelumnya, produksi gula Thailand pada musim produksi yang dimulai Oktober 2026 diproyeksikan turun setidaknya 17% menjadi di bawah 10 juta ton, dari sekitar 12 juta ton pada musim sebelumnya.

Thailand merupakan eksportir gula terbesar kedua dunia. Penurunan produksi tersebut terjadi di tengah penguatan fenomena El Niño yang berpotensi memicu kondisi lebih kering di sejumlah wilayah Asia.

Adhi menilai, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya fleksibilitas dalam pengaturan pasokan bahan baku di dalam negeri. Menurut dia, dunia usaha perlu memiliki ruang untuk mencari sumber pasokan yang tersedia ketika terjadi perubahan kondisi di pasar global.

"Cuma yang penting itu adalah bagaimana Indonesia harus mempersiapkan diri dengan aturan-aturan yang lebih fleksibel. Karena sekarang ini menghadapi banyak tantangan global. Kalau aturan kita tidak fleksibel nanti akan kesulitan sendiri," ujarnya.

Dia berharap pemerintah dan pelaku usaha dapat duduk bersama untuk membahas fleksibilitas regulasi tersebut. Dengan begitu, industri dapat lebih leluasa mengatur pasokan dan memanfaatkan peluang dari perubahan sumber bahan baku global.

"Nah kalau bisa memang dengan pemerintah kita harus duduk bersama. Bagaimana supaya fleksibilitas peraturan ini lebih baik. Sehingga dunia usaha bisa mengatur, cari kesempatan yang bagus," kata Adhi.

Potensi gangguan pasokan gula global juga menjadi perhatian industri minuman ringan. Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo mengatakan, industri minuman ringan dalam negeri bergantung pada pasokan Gula Kristal Rafinasi (GKR) sebagai bahan baku.

Baca Juga: DPR Minta MIND ID Group Tingkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia

Menurut Triyono, bahan baku gula mentah untuk produksi GKR dapat berasal dari sejumlah negara sehingga penurunan produksi di satu negara belum tentu langsung mengganggu pasokan industri di Indonesia.

"Apabila produksi dari salah satu negara asal mengalami gangguan, maka besar kemungkinan pasokan akan dipindahkan ke negara lain yang lebih siap," kata Triyono.

Dia menyebut, pasokan gula mentah saat ini banyak berasal dari Brasil. Sementara itu, produksi atau masa panen gula di Thailand dan Australia sedang mengalami penurunan.

Namun, tekanan pasokan tetap perlu diantisipasi karena harga gula global ikut bergerak naik. Harga kontrak gula di New York tercatat melonjak lebih dari 20% dalam sebulan terakhir, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak 2010.

International Sugar Organization (ISO) juga memperkirakan pasar gula global mengalami defisit sekitar 260.000 ton pada musim mendatang. Fenomena El Niño menjadi salah satu risiko terhadap produksi tebu di kawasan Asia.

Di dalam negeri, Asrim meminta pemerintah memastikan ketersediaan GKR untuk kebutuhan industri, termasuk dengan mempercepat penetapan Neraca Komoditas (NK) dan kuota GKR serta izin impor raw sugar untuk kebutuhan 2027.

Triyono berharap penetapan NK dan kuota GKR dapat dilakukan pada Oktober atau November 2026. Pasalnya, periode Desember 2026 hingga Maret 2027 akan bertepatan dengan sejumlah momentum konsumsi seperti Natal, Tahun Baru, Imlek hingga Lebaran yang secara tradisional meningkatkan permintaan produk minuman siap saji.

Baca Juga: RKAB Tersendat Picu Force Majeure BYAN, Kementerian ESDM Buka Suara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News