Produksi ikan teri di Lampung anjlok



BANDARLAMPUNG. Produksi teri asin di Pulau Pasaran, Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung masih anjlok. Sebagian besar perajin untuk sementara tidak lagi memproduksi ikan asin.

"Produksi ikan teri Lampung lagi anjlok, paling ada dari pesisir Kabupaten Tanggamus. Tapi di Pulau Jawa, produksi ikan teri justru dilaporkan lagi banyak," kata salah satu perajin ikan teri asin, Sarnoto, di Pulau Pasaran Bandarlampung, Kamis (6/4).

Ia menyebut, anjloknya produksi ikan teri asin karena terbatasnya tangkapan bagan-bagan yang bertebaran di perairan Teluk Lampung, seperti di kawasan Legundi, Kiluan dan Sebesi yang lokasinya tidak jauh dari Gunung Anak Krakatau.


Selain faktor cuaca, penyebab anjloknya tangkapan ikan teri diduga terkait pencemaran laut, serta menjamurnya tambak udang di pesisir pantai Lampung. Sehingga, banyak perajin yang memilih tidak berproduksi sampai pulihnya pasokan ikan segar.

Dalam kondisi normal, para perajin mampu memproduksi ikan teri asin berkisar 20-30 ton per hari yang umumnya dipasarkan ke Jabotabek, Bandung, dan daerah lainnya di Sumatra, seperti Medan, Sumut. Jika produksi anjlok seperti sekarang, Pulau Pasaran hanya mampu menghasilkan ikan teri asin kurang dari 1 ton sehari.

Menurut Sarnoto, karena hanya sedikit yang memproduksi, harga ikan asin di Pulau Pasaran melambung. Dalam kondisi normal, harga ikan teri jengki Rp 35.000 per kilogram, dan teri nasi berkisar Rp 60.000-Rp 65.000 per kg.

Anjloknya produksi ikan teri asin juga berdampak terhadap penghasilan ratusan orang buruh yang setiap harinya bekerja sebagai penyortir ikan teri asin di Pulau Pasaran.

Berdasarkan pantauan, hanya beberapa orang yang masih bekerja, sementara kondisi Pulau Pasaran terlihat lengang.

Pulau Pasaran luasnya sekitar 12 hektare dan disesaki rumah-rumah perajin ikan asin, sementara pantai pesisirnya dipenuhi kapal-kapal nelayan dan keramba. Aktivitas penduduk Pulau Pasaran setiap harinya selalu berkaitan dengan produksi ikan asin, kecuali jika berhenti berproduksi maka mereka bekerja serabutan, seperti buruh dan awak angkutan umum.

(Hisar Sitanggang)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini