KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Arkora Hydro Tbk (
ARKO) menargetkan produksi listrik mencapai 231,8 gigawatt hour (GWh) pada 2027. Target tersebut meningkat sekitar 49,4% dibandingkan proyeksi produksi listrik pada 2026 yang sebesar 155,1 GWh. Direktur ARKO Terry Tando mengatakan, peningkatan produksi listrik pada tahun depan akan ditopang oleh penambahan kapasitas pembangkit. Di mana, berencana mengoperasikan satu PLTA di Tomoni pada kuartal I-2027 dengan kapasitas 10 megawatt (mw). "Untuk tahun 2027, itu kita proyeksikan, kita akan growth naik menjadi 231,8 GWh, di mana yang pada tahun depan ada penambahan satu hydro power di Tomoni, dan juga penambahan untuk solar power, sehingga itu bisa kita proyeksikan, menambah produksi kita menjadi 231,8 GWh," ujar Terry dalam paparan publik virtual, Senin (2/11/2026).
Terry menambahkan, perusahaan masih akan terus memperluas portofolio proyek energi terbarukan. Saat ini, ARKO memiliki pipeline proyek dengan kapasitas lebih dari 300 MW.
Baca Juga: Implementasi BLU Migas Belum 100%, Pemerintah Masih Siapkan Aturan Teknis ARKO juga masih aktif menjajaki penambahan proyek baru untuk menangkap peluang pengembangan energi terbarukan di Indonesia. "Kita tidak akan berhenti sampai di sini saja, jadi kita akan tetap grow terus. Potensi ini masih sangat besar, dan kita coba tetap aktif untuk menambah pipeline kita, sehingga kebutuhan pemerintah tersebut bisa kita terjadi," kata Terry. Menurut Terry, peluang pengembangan pembangkit energi terbarukan di Indonesia masih terbuka lebar.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 52,9 gigawatt (GW), termasuk 17,1 GW dari tenaga surya dan 11,7 GW dari tenaga air. Di sisi lain, realisasi pemanfaatan potensi energi surya dan air di Indonesia masih relatif rendah. Terry memaparkan, potensi tenaga surya mencapai 3.294 GWp, tetapi kapasitas yang telah dimanfaatkan baru sekitar 1,4 GWp. Sementara itu, potensi tenaga air mencapai 95 GW dengan tingkat pemanfaatan sekitar 7,9%.
Terkait operasional bisnis di 2026, kinerja produksi listrik ARKO pada 2026 masih menghadapi tantangan akibat kondisi cuaca. Ia menyebut fenomena El Nino yang terjadi sepanjang tahun ini berdampak terhadap ketersediaan air untuk operasional pembangkit listrik tenaga air. "Kita memang cukup struggle, karena sama-sama ketahui di tahun 2026 ini kita mengalami El Nino yang sangat luar biasa, sehingga ini cukup mengganggu kondisi air untuk pembangkit kita," jelasnya. Kendati demikian, perusahaan memperkirakan produksi listrik 2026 masih dapat meningkat menjadi 155,1 GWh dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 151,8 GWh.
Baca Juga: Pendapatan dan Laba Chitose Internasional (CINT) Naik Per Kuartal III-2026 Hingga September 2026, ARKO tercatat membukukan laba bersih sebesar Rp 56,6 miliar hingga kuartal III-2026. Realisasi tersebut meningkat 18,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih tersebut dicapai di tengah pendapatan ARKO yang relatif stagnan. Per September 2026, ARKO mencatatkan pendapatan sebesar Rp 244,9 miliar, terkoreksi sekitar 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News