Produksi Migas Teluk Anjlok 57%, Goldman Prediksi Pulih Bertahap



KONTAN.CO.ID - Produksi minyak di kawasan Teluk yang sempat tertekan akibat konflik Iran diperkirakan akan pulih dalam beberapa bulan setelah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh.

Namun, proses pemulihan tersebut juga berpotensi memakan waktu lebih lama dari perkiraan.

Baca Juga: Bursa Australia Terkoreksi Jumat (24/4), Ketidakpastian Timur Tengah Tekan Pasar


Dalam laporan terbarunya dilansir Reuters Jumat (24/4/2026), Goldman Sachs menyebutkan bahwa sekitar 14,5 juta barel per hari produksi minyak mentah di kawasan Teluk atau setara 57% dari pasokan sebelum perang tidak beroperasi pada April.

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh penghentian operasi secara preventif dan pengelolaan stok, bukan karena kerusakan fisik pada ladang minyak.

Sebagai salah satu jalur vital energi global, Selat Hormuz biasanya menyalurkan sekitar seperlima aliran minyak dunia.

Oleh karena itu, gangguan berkepanjangan di jalur ini membawa dampak signifikan terhadap pasar energi global.

Baca Juga: Dolar Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Jumat (24/4), Negosiasi AS-Iran Mandek

Goldman Sachs menilai bahwa pembukaan kembali selat secara aman dan berkelanjutan, tanpa adanya serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi, akan memungkinkan produksi minyak pulih relatif cepat.

Pemulihan ini juga didukung oleh kapasitas cadangan produksi yang dimiliki negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Meski demikian, proses pemulihan tidak lepas dari sejumlah kendala teknis. Bank investasi tersebut mencatat bahwa kapasitas kapal tanker kosong di kawasan Teluk telah berkurang sekitar 130 juta barel atau 50%, sehingga dapat membatasi kecepatan distribusi minyak saat ekspor kembali normal.

Selain itu, penghentian produksi dalam waktu lama juga berisiko menurunkan laju aliran minyak, terutama pada reservoir bertekanan rendah. Kondisi ini dapat memerlukan pekerjaan perbaikan (workover) sebelum produksi bisa kembali optimal. Semakin lama produksi terhenti, semakin lambat pula proses pemulihannya.

Baca Juga: Gencatan Senjata Lebanon–Israel Diperpanjang 3 Pekan Usai Perundingan di Gedung Putih

Prospek pemulihan juga berbeda di tiap negara. Iran dan Irak dinilai menghadapi risiko lebih besar akibat karakteristik reservoir, tantangan infrastruktur, serta sanksi yang masih berlaku.

Sementara itu, Arab Saudi diperkirakan mampu meningkatkan produksi lebih cepat.

Berdasarkan rata-rata proyeksi dari berbagai lembaga, Goldman Sachs memperkirakan produsen minyak di kawasan Teluk dapat memulihkan sekitar 70% dari kapasitas yang hilang dalam tiga bulan, dan sekitar 88% dalam enam bulan.

Namun, bank tersebut mengingatkan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama, risiko kerusakan permanen terhadap pasokan minyak global juga akan meningkat.