KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Realisasi produksi minyak mentah nasional belum mampu mencapai level 600.000 barel per hari atau
Barrel of Oil Per Day (BOPD). Rata-rata produksi minyak mentah sampai dengan Juli 2026 baru bisa menyentuh 578.156 bopd, masih di bawah target produksi minyak di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 610.000 bopd. Sejalan dengan itu, realisasi produksi gas bumi nasional juga belum bisa mencapai target.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rata-rata realisasi produksi gas bumi sampai dengan Juli 2026 sebesar 6.544 million standard cubic feet per day (mmscfd). Masih di bawah target 2026 yang sebesar 6.837 mmscfd.
Baca Juga: Lifting Perdana B50, Dua Kilang Pertamina Patra Niaga Pasok 12.830 Kiloliter ke SPBU "Keduanya (minyak dan gas bumi) memang sampai hari ini masih kita upayakan untuk bisa mencapai target produksi di tahun 2026," ungkap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam RDP dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026). Laode menyoroti tiga tantangan utama yang membuat produksi migas nasional masih berada di bawah target.
Pertama, kebocoran dan kebakaran pipa PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada awal Januari 2026, yang menyebabkan terganggunya pasokan gas ke Wilayah Kerja (WK) Rokan.
Kedua, kendala sistem kelistrikan di WK Rokan akibat gangguan pada pembangkit listrik Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN). "Hingga saat ini masih kami upayakan agar pembangkit ini bisa segera diperbaiki dan dioperasokan kembali sehingga bisa optimal kembali produksi di Blok Rokan," ujar Laode.
Baca Juga: Pertamina Patra dan Indo Sino Kerja Sama Pemanfaatan Gas untuk Operasional Kilang Ketiga, adanya kendala operasional pada WK Cepu dan terjadinya percepatan natural decline. Laode mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan serangkaian diskusi dengan operator untuk menahan laju penurunan produksi, dan berupaya menjaganya agar tetap stabil. "Sudah diambil langkah-langkah untuk melakukan upaya agar natural decline ini dapat direduksi. Sehingga saat ini kondisi yang terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar, jadi jangan turun lagi," imbuh Laode. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa Blok Rokan dan Blok Cepu masih menjadi tulang punggung produksi minyak nasional. Dus, gangguan operasional yang menyebabkan penurunan produksi di dua blok tersebut akan berdampak signifikan terhadap produksi minyak nasional.
Hingga Juli 2026, rata-rata realisasi produksi minyak dan kondensat PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tercatat sebanyak 133.581 barel per day (bpd). Sementara ExxonMobil Cepu Ltd. menyumbang 124.266 bpd.
Baca Juga: Kilang Bensin Cilacap–Dumai Ditargetkan Tekan Impor BBM US$1,25 Miliar Produksi PHR hanya mampu mencapai 81,5% dari target lifting 2026, sedangkan ExxonMobil Cepu baru mampu memenuhi 83,7% dari target. Selain dua Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tersebut, dari 20 produsen minyak terbesar, ada delapan KKKS lain yang masih belum mencapai target lifitng 2026.