KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah menguat karena penghentian sementara produksi di ladang minyak Kazakhstan dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global yang lebih kuat dapat mendorong permintaan bahan bakar. Di sisi lain, investor juga terus memantau ancaman tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap negara-negara Eropa yang menentang upayanya untuk mengakuisisi Greenland. Selasa (20/1/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 ditutup naik 98 sen atau 1,53% ke US$ 64,92 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk bulan kontrak pengiriman Februari 2026, yang berakhir pada hari ini, ditutup menguat 90 sen atau 1,51% menjadi US$ 60,34 per barel. Sementara, harga WTI untuk kontrak pengiriman bulan Maret 2026 yang lebih aktif diperdagangkan berhasil ditutup naik US$ 1,02 atau 1,72% ke US$ 60,36 per barel.
Baca Juga: Harga Perak Meledak ke US$ 95: Potensi ke Level US$ 300 di 2026, Siap Cuan? Dukungan bagi harga minyak datang setelah produsen minyak Kazakhstan, Tengizchevroil, yang dipimpin oleh Chevron, mengatakan bahwa mereka telah menghentikan sementara produksi di ladang minyak Tengiz dan Korolev setelah masalah memengaruhi sistem distribusi listrik. Tengiz bisa dihentikan selama 7 hingga 10 hari lagi, mengurangi ekspor minyak mentah melalui Caspian Pipeline Consortium, menurut sumber yang dikutip Reuters pada hari Selasa. "Tengiz termasuk salah satu ladang minyak terbesar di dunia, jadi penghentian ini tentu saja mengganggu aliran minyak mentah," kata Ajay Parmar, direktur energi dan penyulingan di ICIS. "Namun gangguan ini tampaknya bersifat sementara, dan jika retorika tarif berlanjut, kami memperkirakan harga akan turun kembali," katanya. Pasar minyak juga mendapat dukungan dari data produk domestik bruto (PDB) kuartal keempat China yang lebih baik dari perkiraan yang dirilis pada hari Senin, kata analis pasar IG, Tony Sycamore. "Ketahanan di negara pengimpor minyak terbesar di dunia ini memberikan dorongan pada sentimen permintaan," katanya.
Baca Juga: Klaim Greenland: Rusia Sebut Trump Bakal Abadi dalam Sejarah Ekonomi China tumbuh 5% di tahun 2025 dan kapasitas pengolahan kilang minyak negara itu pada tahun 2025 naik 4,1% secara tahunan, data menunjukkan pada hari Senin. Produksi minyak mentah China juga tumbuh 1,5%. Harga juga naik karena revisi ke atas estimasi pertumbuhan ekonomi global tahun ini oleh Dana Moneter Internasional serta harga diesel yang lebih kuat, kata analis PVM, Tamas Varga. Pelemahan dolar AS juga mendukung harga, karena mata uang AS yang lebih lemah dapat meningkatkan permintaan minyak dengan membuat pembelian dalam denominasi dolar menjadi lebih murah. Sementara itu, Kekhawatiran akan perang dagang yang kembali memanas meningkat selama akhir pekan setelah Trump mengatakan akan mengenakan bea tambahan 10% mulai 1 Februari pada barang-barang impor dari negara-negara anggota Uni Eropa, yaitu Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda, serta Inggris dan Norwegia, yang akan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan mengenai Greenland.
Baca Juga: Desakan AS atas Greenland Picu Krisis, Mantan Bos NATO Minta Eropa Melawan Ancaman tarif Trump berdampak negatif pada harga minyak mentah karena bea tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah dan karenanya mengurangi pertumbuhan permintaan minyak, kata Parmar dari ICIS. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan pada hari Selasa bahwa badan eksekutif blok tersebut sedang mengerjakan paket untuk mendukung keamanan Arktik dan bahwa tarif tersebut adalah sebuah kesalahan.