KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemangkasan target produksi bijih nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mendorong pengusaha mulai membidik Rusia sebagai alternatif sumber impor selain Filipina. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, pemerintah tidak mempermasalahkan impor bijih nikel dari Filipina yang diperkirakan berada di kisaran 10 juta–15 juta ton. Angka tersebut dinilai masih aman meski target produksi bijih nikel domestik tahun ini dipangkas menjadi 250 juta–260 juta ton. “Impor ya nggak apa-apa, kan selama ini Filipina kan. Filipina kan nggak akan tinggi-tinggi amat ya, sekitar 10 –15 [juta ton],” ujar Tri di Kompleks DPR RI, Senin (19/1/2026).
Produksi Nikel Dipangkas, Pengusaha Mulai Bidik Rusia sebagai Sumber Impor
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemangkasan target produksi bijih nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mendorong pengusaha mulai membidik Rusia sebagai alternatif sumber impor selain Filipina. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, pemerintah tidak mempermasalahkan impor bijih nikel dari Filipina yang diperkirakan berada di kisaran 10 juta–15 juta ton. Angka tersebut dinilai masih aman meski target produksi bijih nikel domestik tahun ini dipangkas menjadi 250 juta–260 juta ton. “Impor ya nggak apa-apa, kan selama ini Filipina kan. Filipina kan nggak akan tinggi-tinggi amat ya, sekitar 10 –15 [juta ton],” ujar Tri di Kompleks DPR RI, Senin (19/1/2026).
TAG: