Produksi Nikel Diproyeksi Pulih, Simak Rekomendasi Saham Vale Indonesia (INCO)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat kinerja positif pada tahun 2025. Produksi nikel yang diproyeksi meningkat bisa menjadi salah satu katalis pendorong kinerja INCO pada tahun 2026. 

Igor Putra, Analis UBS Sekuritas Indonesia mencatat bahwa laba bersih INCO tahun 2025 sebesar US$ 76 juta, naik 32% secara year on year (yoy) atau tahunan. Angka ini 2% di bawah perkiraan UBS Sekuritas 2025 sebesar US$ 78 juta. Laba bersih yang di bawah perkiraan ini disebabkan oleh pembangunan ulang tungku tiga yang lebih cepat dan biaya restorasi lingkungan pada kuartal IV-2025. 

Sedangkan pendapatan tahun 2025 melampaui perkiraan UBS Sekuritas karena penjualan yang lebih tinggi dari bijih saprolit dan nikel matte, yang lebih dari mengimbangi harga jual rata-rata (ASP) saprolit yang lebih rendah. Sisa peningkatan laba berasal dari pendapatan lain bersih dan pendapatan bunga bersih. 


Baca Juga: Dolar AS Terbatas, Mata Uang Asia Cenderung Menguat Didukung Sentimen Positif

Igor melihat penurunan penjualan nikel matte secara berurutan pada kuartal IV-2025 disebabkan oleh pembangunan kembali tungku 3 yang dimulai pada November 2025 dan dijadwalkan selesai pada Mei 2026.

“Kami memperkirakan produksi nikel matte akan pulih dengan kuat pada semester II-2026,” ujar Igor dalam risetnya pada 16 Maret 2026. 

Tercatat produksi nikel matte INCO pada tahun 2025 mencapai 72.027 metrik ton, meningkat dari 71.311 metrik ton pada 2024. Secara kuartalan, produksi pada kuartal IV-2025 mencapai 17.052 metrik ton, turun 12% dibanding kuartal III-2025 yang sebesar 19.391 metrik ton.

Igor menambahkan bahwa tambang Bahodopi maupun Pomalaa mencatatkan peningkatan volume penjualan saprolit sebesar 90% secara berurutan pada kuartal IV-2025 yang menandakan kemampuan INCO untuk meningkatkan penjualan bijih nikelnya tahun ini. Peningkatan produksi kedua tambang tersebut menunjukkan operasi terintegrasi yang diperkirakan akan meningkatkan kepastian kuota penambangan bijih nikel atau rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) INCO dibandingkan dengan para pesaingnya hingga tahun 2026. 

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi melihat kinerja INCO pada kuartal II – 2026 akan mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap, meskipun belum sepenuhnya optimal. Performa akan sangat ditentukan oleh realisasi RKAB yang saat ini masih terbatas (sekitar 30% dari target awal).

Artinya, kontribusi volume di awal tahun cenderung front-loaded secara konservatif, dan upside baru akan lebih terlihat apabila ada tambahan kuota di pertengahan tahun. Di sisi lain, harga nikel yang relatif stabil di kisaran asumsi US$ 16.000/ton serta adanya premium ore di pasar domestik menjadi penopang margin dalam jangka pendek. 

Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Termasuk Rupiah Menguat, Ini Faktor Pendorongnya

“Dengan demikian, kami melihat kuartal II-2026 sebagai fase transisi, masih dibayangi keterbatasan supply, namun dengan fondasi yang cukup kuat untuk recovery di semester II,” jelas Imam kepada Kontan, Rabu (1/4/2026). 

Imam menambahkan bahwa tantangan utama INCO di kuartal II-2026 tetap berasal dari sisi supply dan kebijakan. Pertama, keterbatasan RKAB yang hanya sekitar 30% dari target awal berpotensi membatasi volume produksi dan penjualan ore dalam jangka pendek.

Kedua, adanya rencana penerapan pajak ekspor nikel menjadi potensi headwind tambahan. Walaupun besarannya masih belum final, setiap kenaikan pajak berpotensi menekan profitabilitas, dan INCO termasuk salah satu yang cukup terekspos terhadap kebijakan ini.

Ketiga, faktor eksternal seperti kenaikan biaya energi dan potensi kelangkaan sulfur juga menjadi risiko downside, terutama untuk proyek-proyek berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) ke depan. Selain itu, risiko eksekusi juga tetap relevan, khususnya terkait ramp-up produksi dan monetisasi penjualan ore eksternal yang masih relatif baru bagi INCO.

Sementara, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menyoroti volatilitas harga nikel global yang masih rentan terhadap perlambatan permintaan dari China dan oversupply pasokan dari Indonesia. Rebuild Electric Furnace ketiga (EF3) berpotensi sedikit membebani volume produksi nickel matte, meski panduan produksi tetap dijaga di kisaran 63 hingga 70 kilo ton per tahun (ktpa). 

“Risiko keterlambatan ramp-up proyek Pomalaa HPAL juga perlu dipantau karena kontribusi awalnya baru diperkirakan masuk di kuartal IV-2026,” ujar Abida kepada Kontan, Rabu (1/4/2026). 

Benny Kurniawan, Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia menilai posisi INCO sebagai salah satu pemegang cadangan bijih berkualitas tinggi terbesar. Ini juga berarti bahwa perusahaan memiliki opsi untuk mengembangkan lebih lanjut aset hilir jika pengembaliannya menguntungkan, dengan blok Tanamalia dianggap sebagai lokasi baru untuk masa depan.

Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Naik, Analis Sebut Masih Bisa Tembus US$ 6.000

Meski begitu, pergeseran negatif dalam permintaan nikel jangka panjang, khususnya perubahan dalam kimia baterai (dari berbasis nikel ke kimia lain) dan penundaan pelaksanaan proyek HPAL merupakan risiko yang perlu dicermati. 

Igor memproyeksikan pendapatan dan laba bersih INCO tahun 2026 masing-masing sebesar US$ 1,30 miliar dan US$ 184 juta. Adapun pada tahun 2025, INCO mengantongi pendapatan US$ 990,19 juta dan laba bersih US$ 76,06 juta. Sementara Imam menilai secara fundamental, outlook tahun 2026 (FY26) masih cukup kuat dengan proyeksi laba bersih mencapai sekitar US$ 247 juta (naik 237% yoy), didorong oleh kenaikan volume penjualan ore dan perbaikan margin.

Igor dan Abida merekomendasikan buy saham INCO dengan target harga masing-masing Rp 9.000 per saham dan Rp 8.000 per saham. Imam merekomendasikan buy on weakness saham INCO dengan target harga Rp 6.500 per saham. Sementara Benny merekomendasikan overweight saham INCO dengan target harga Rp 9.300 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News