Produksi Padi dan Beras Semester I 2026 Naik Tipis, BPS Soroti Ketahanan Pangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja produksi padi dan beras nasional pada Semester I 2026 menunjukkan tren yang relatif stabil, namun dengan peningkatan yang sangat terbatas. Kondisi ini menjadi sinyal penting di tengah tekanan terhadap ketahanan pangan nasional, sekaligus mencerminkan sempitnya ruang ekspansi produksi domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total produksi beras periode Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton. Angka ini hanya meningkat 0,05 juta ton atau 0,26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 19,26 juta ton.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa produksi beras masih sangat bergantung pada periode puncak panen. “Produksi Maret 2026 diperkirakan 5,04 juta ton, sementara potensi April–Juni mencapai 9,61 juta ton,” ujar Ateng dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).


Dari sisi hulu, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) juga menunjukkan pertumbuhan yang tipis. Sepanjang Semester I 2026, produksi GKG diproyeksikan mencapai 33,52 juta ton, naik 0,09 juta ton atau 0,26% secara tahunan.

Baca Juga: Kinerja Ekspor Komoditas Unggulan: CPO dan Besi Baja Naik, Batubara Melemah

Secara rinci, produksi GKG pada Maret tercatat sebesar 8,75 juta ton, sementara potensi produksi pada periode April–Juni diperkirakan mencapai 16,68 juta ton. Estimasi ini didasarkan pada hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) yang dilakukan BPS.

Sementara itu, produksi Gabah Kering Panen (GKP) selama Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 40,08 juta ton. Angka ini meningkat 0,14 juta ton atau 0,35% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 39,94 juta ton.

Untuk bulan Maret, produksi GKP diproyeksikan sebesar 10,48 juta ton, dengan potensi produksi April–Juni mencapai 19,93 juta ton.

Kenaikan produksi yang terbatas ini berjalan seiring dengan ekspansi luas panen yang juga minim. BPS mencatat luas panen padi pada Semester I 2026 mencapai 6,27 juta hektare, hanya bertambah 0,01 juta hektare atau 0,22% dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: BPS: Impor Barang Konsumsi Maret Turun 10,81%, Bahan Baku dan Barang Modal Naik

Adapun realisasi luas panen pada Maret mencapai 1,61 juta hektare, sementara potensi luas panen pada April–Juni diperkirakan sebesar 3,16 juta hektare.

Ateng menegaskan bahwa produksi nasional saat ini masih ditopang oleh puncak panen pada triwulan II. Meski demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi ke depan, terutama terkait faktor cuaca dan ketersediaan sumber daya air.

“Produksi masih ditopang fase panen triwulan kedua, tetapi ke depan perlu diwaspadai faktor cuaca dan kondisi sumber daya air,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News