KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan bahwa produksi kayu olahan atau plywood turun 10%-20% pada periode kuartal I-2026. Penurunan itupun terjadi di sejumlah wilayah. Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan, tidak semua wilayah yang mengalami penurunan produksi kayu olahan pada Kuartal I-2026. Dia menyebut, wilayah Jawa Tengah khususnya Solo mengalami penurunan. Sebab, wilayah tersebut merupakan basis utama industri furnitur dan plywood, penurunan terjadi cukup terasa akibat pelemahan order ekspor.
"Penurunan produksi kayu olahan pada Kuartal I-2026 tidak terjadi di satu wilayah tertentu saja, tetapi relatif merata di beberapa sentra industri utama di Indonesia, dengan tingkat tekanan yang berbeda-beda," ujar Abdul kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: PHE Melaporkan Produksi Migas Tembus 956 MBOEPD di Kuartal I-2026 Abdul menuturkan bahwa wilayah lainnya yang mengalami penurunan yakni Jawa Timur, khususnya di wilayah Gresik, Pasuruan dan sekitarnya. Wilayah Jawa Timur mengalami penurunan pada industri pengolahan kayu skala besar. Dampak penurunan akibat permintaan luar negeri yang menurun. Kemudian, untuk wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) justru tidak mengalami penurunan seperti daerah lainnya. Khusus untuk wilayah hulu, kata Abdul, justru pengolahan kayu lapis mengalami penyesuaian produksi karena kombinasi faktor
demand dan operasional. "Sumatra (Riau, Sumatra Selatan) Beberapa industri plywood dan veneer juga mengalami perlambatan, meskipun tidak sedalam di Jawa," kata Abdul. Menurutnya, penurunan produksi kayu olahan ini bukan karena adanya krisis bahan baku lokal di wilayah tertentu, melainkan karena tekanan pasar global yang berdampak nasional. Sebelumnya, Abdul menjelaskan bahwa penurunan produksi kayu olahan termasuk plywood berada di kisaran 20% pada periode Januari-Maret 2026, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Baca Juga: Strategi Andalan Artha Primanusa Memacu Usaha Kontraktor Tambang Batubara dan Nikel Abdul bilang, tren penurunan produksi kayu olahan di kuartal I-2026 bersifat indikatif karena masing-masing segmen dan wilayah mengalami tekanan yang berbeda. Menurutnya, penurunan produksi kayu saat ini bukan hanya sekadar masalah pasokan saja. Tetapi menjadi sinyal bahwa harus segera perkuat daya saing industri hilir. Tujuannya, agar kayu Indonesia tidak hanya diekspor sebagai bahan, melainkan juga menjadi produk yang bernilai tinggi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News