Produksi Tambang Batu Hijau Menuju Normal, Pendapatan AMMN Diproyeksi Meningkat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksi meningkat seiring dengan produksi tambang Batu Hijau yang menuju normal pada tahun 2026. 

Tim Riset Phintraco Sekuritas mengatakan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi AMMN. Karena tambang Batu Hijau memasuki fase produksi yang lebih normal setelah transisi Fase 8, yang menghasilkan pemulihan volume penjualan dan penurunan biaya per unit. 

Setelah transisi pada tahun 2025 dengan volume dan kadar yang kurang optimal, pemulihan operasi pada tahun 2026 diharapkan mendorong peningkatan margin dan laba yang lebih signifikan. 


Penguatan rantai nilai juga mendukung momentum ini melalui smelter dan fasilitas Precious Metals Refinery (PMR), yang mulai memberikan produk dengan nilai tambah lebih banyak, dan melalui perluasan konsentrator. Perluasan konsentrator smelter PMR ditargetkan beroperasi pada awal tahun 2026 untuk memperkuat kapasitas dan menyederhanakan proses. 

Baca Juga: BEI Jadwalkan Technical Meeting dengan MSCI Rabu (4/3)

“Pendapatan AMMN diperkirakan akan meningkat secara signifikan pada tahun fiskal 2026 seiring dengan pulihnya produksi tembaga dan emas setelah transisi ke Fase 8,” ujar tim riset Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada 19 Februari 2026. 

Andreas Yordan Tarigan, Analis Sucor Sekuritas mengatakan, dimulainya fase 8 secara material mengubah prospek produksi AMMN, dengan produksi konsentrat sebesar 900 ribu dry metric ton (dmt), naik 109% secara year on year (yoy) pada tahun 2026, yang mengandung 485 juta pon tembaga (naik 113% yoy) dan 579.000 ons emas (naik 543% yoy). 

Peningkatan ini didukung oleh peningkatan kadar bijih, penambahan jalur konsentrator baru, dan pemanfaatan yang terus meningkat dari pabrik peleburan tembaga barunya, yang mencatat produksi katoda pertamanya pada awal tahun 2025. 

“Kami memperkirakan utilisasi smelter akan mencapai sekitar 80% pada tahun 2026 sebelum mencapai kapasitas hampir penuh pada tahun 2027,” ujar Andreas dalam risetnya pada 19 Januari 2026.   

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan mengatakan, kinerja AMMN di kuartal I-2026 berpeluang membaik dibanding tahun 2025 karena tekanan pada penjualan tertahan mulai lebih longgar setelah ada rekomendasi ekspor konsentrat sampai sekitar April 2026. 

“Namun perbaikannya belum tentu langsung mulus, karena Kuartal I masih sangat bergantung pada stabilitas operasional smelter yang masih dalam fase perbaikan dan ramp-up, jadi masih ada tantangan,” ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (3/3/2026). 

Ekky melihat sejumlah tantangan utama AMMN. Pertama, eksekusi perbaikan serta konsistensi operasi smelter. Kedua, kepastian realisasi ekspor konsentrat selama masa transisi hingga April 2026, termasuk bagaimana kelanjutan kebijakan setelah periode tersebut. Ketiga, aspek biaya dan cashflow di fase transisi, beban tetap berjalan dan pasar akan sensitif terhadap efisiensi biaya serta beban pendanaan. 

Selain itu, Andreas mengatakan sentimen yang juga perlu dicermati adalah konsolidasi besar-besaran pemain tembaga global. Glencore dan Rio Tinto telah melanjutkan pembicaraan mengenai potensi mega-merger yang dapat menciptakan raksasa pertambangan dengan nilai perusahaan lebih dari US$ 260 miliar. Ini menjadikannya produsen tembaga terbesar di dunia. Sementara itu, merger Anglo American – Teck Resources dilaporkan hampir mendapatkan persetujuan antimonopoli Uni Eropa. 

“Kami melihat percepatan konsolidasi industri sebagai katalis potensial untuk harga tembaga yang lebih tinggi, karena pasokan global semakin terkonsentrasi di antara beberapa pemain utama,” terang Andreas. 

Tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan pendapatan AMMN tahun 2025 mencapai US$ 1,14 miliar, turun 57,0% yoy dari US$ 2,66 miliar pada tahun 2024. Hal ini karena produksi tetap rendah pada tahap awal Fase 8 ketika area permukaan masih mendominasi penambangan dan kualitas/volume bijih berada di bawah tingkat optimal. 

Meskipun kinerja tahun 2025 diproyeksi tetap berada di bawah tekanan, tren kinerja sepanjang kuartal I sampai kuartal III 2025 menunjukkan peningkatan bertahap. Setelah kuartal I – 2025 yang sangat lemah, pendapatan secara bertahap pulih di kuartal II – 2025 dan meningkat lagi di kuartal III – 2025 seiring stabilnya operasional dan meningkatnya penjualan. 

Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas operasional dan pengiriman kembali ke tingkat yang lebih konsisten daripada di awal tahun 2025. “Ini memberikan fondasi yang lebih baik untuk pemulihan tahun 2026. Meskipun penyesuaian biaya belum selaras dengan penurunan pendapatan, manajemen biaya diharapkan membaik seiring dengan pulihnya volume,” jelas tim riset Phintraco Sekuritas. 

Tim riset Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan dan laba bersih AMMN tahun 2026 masing – masing US$ 3,52 miliar dan US$ 1,52 miliar. Tahun 2025 pendapatan dan laba bersih diproyeksi mencapai US$ 1,14 miliar dan US$ 130 juta. Adapun tahun 2024 AMMN mengantongi pendapatan US$ 2,66 miliar dan US$ 642 juta. 

Tim riset Phintraco Sekuritas dan Andreas merekomendasikan Buy saham AMMN dengan target harga masing – masing Rp 8.700 per saham dan Rp 11.000 per saham. Sementara Ekky merekomendasikan Buy on Weakness saham AMMN dengan target harga Rp 9.850 – Rp 10.000 per saham. Namun tetap perlu disiplin manajemen risiko karena setiap gangguan operasional atau isu kebijakan ekspor bisa langsung memicu volatilitas.

Baca Juga: OJK Perkuat Early Warning System, Deteksi Insider Trading hingga Manipulasi Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News