KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis pelayaran nasional hingga akhir 2026 masih bergantung pada perkembangan produksi komoditas. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (DPP INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, angkutan komoditas sangat dipengaruhi produksi dan kebutuhan pasar. “Prospek angkutan komoditas akan kembali cerah bila produksi mineral dan batubara kembali ditingkatkan,” ujar Carmelita kepada KONTAN, Senin (10/8/2026). Baca Juga: Harga Batubara Acuan Periode Pertama Agustus Turun, Ini Efek ke Laba Emiten Tambang Menurut Carmelita, permintaan angkutan komoditas sempat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut berkaitan dengan program hilirisasi dan tingginya ekspor barang tambang, khususnya batubara. Namun, pada awal tahun terjadi oversupply setelah adanya pembatasan produksi. Carmelita menilai kondisi angkutan komoditas sangat dinamis mengikuti perkembangan produksi. Sementara itu, angkutan logistik dan penumpang dinilai relatif lebih stabil. Untuk sektor logistik, prospek bisnis diperkirakan terdorong pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan kawasan industri. Peningkatan arus distribusi antarpulau juga menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek angkutan logistik. Dari sisi investasi, Carmelita menilai keputusan menambah armada bergantung pada peluang pasar, dan kondisi keuangan perusahaan. “Kondisi agresif untuk menambah atau meremajakan armada sangat bergantung pada peluang pasar yang ada dan keuangan masing-masing pengusaha,” katanya. Menurut dia, harga aset kapal bukan menjadi faktor utama dalam menentukan investasi armada. Peluang muatan dan prospek permintaan menjadi pertimbangan yang lebih penting. Baca Juga: Harga Batubara Turun di Periode Pertama Agustus, APBI Soroti Hal ini
Produksi Tambang Jadi Penentu Bisnis Pelayaran Nasional hingga Akhir 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis pelayaran nasional hingga akhir 2026 masih bergantung pada perkembangan produksi komoditas. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (DPP INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, angkutan komoditas sangat dipengaruhi produksi dan kebutuhan pasar. “Prospek angkutan komoditas akan kembali cerah bila produksi mineral dan batubara kembali ditingkatkan,” ujar Carmelita kepada KONTAN, Senin (10/8/2026). Baca Juga: Harga Batubara Acuan Periode Pertama Agustus Turun, Ini Efek ke Laba Emiten Tambang Menurut Carmelita, permintaan angkutan komoditas sempat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut berkaitan dengan program hilirisasi dan tingginya ekspor barang tambang, khususnya batubara. Namun, pada awal tahun terjadi oversupply setelah adanya pembatasan produksi. Carmelita menilai kondisi angkutan komoditas sangat dinamis mengikuti perkembangan produksi. Sementara itu, angkutan logistik dan penumpang dinilai relatif lebih stabil. Untuk sektor logistik, prospek bisnis diperkirakan terdorong pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan kawasan industri. Peningkatan arus distribusi antarpulau juga menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek angkutan logistik. Dari sisi investasi, Carmelita menilai keputusan menambah armada bergantung pada peluang pasar, dan kondisi keuangan perusahaan. “Kondisi agresif untuk menambah atau meremajakan armada sangat bergantung pada peluang pasar yang ada dan keuangan masing-masing pengusaha,” katanya. Menurut dia, harga aset kapal bukan menjadi faktor utama dalam menentukan investasi armada. Peluang muatan dan prospek permintaan menjadi pertimbangan yang lebih penting. Baca Juga: Harga Batubara Turun di Periode Pertama Agustus, APBI Soroti Hal ini
TAG: