KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produktivitas biji kakao dalam negeri rendah, karena itu opsi impor biji kakao masih jadi pilihan utama industri. Namun demikian, pengusaha terkendala tarif impor masuk bahan baku biji kakao yang dikenakan pemerintah, ironisnya impor bubuk kakao tidak dikenai tarif. Tak hanya itu, keserampangan data antar kementerian dan lembaga berpotensi membuat proyeksi dan regulasi komoditas ini jadi tidak efektif. Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya menyatakan tahun 2017 kebutuhan biji kakao industri sebesar 465.000 ton, sedangkan produksi nasional baru mencapai 260.000 ton, maka untuk mencapai sisanya melalui impor.
Produktivitas kakao rendah, asosiasi minta pemerintah kaji regulasi impor
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produktivitas biji kakao dalam negeri rendah, karena itu opsi impor biji kakao masih jadi pilihan utama industri. Namun demikian, pengusaha terkendala tarif impor masuk bahan baku biji kakao yang dikenakan pemerintah, ironisnya impor bubuk kakao tidak dikenai tarif. Tak hanya itu, keserampangan data antar kementerian dan lembaga berpotensi membuat proyeksi dan regulasi komoditas ini jadi tidak efektif. Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya menyatakan tahun 2017 kebutuhan biji kakao industri sebesar 465.000 ton, sedangkan produksi nasional baru mencapai 260.000 ton, maka untuk mencapai sisanya melalui impor.