Produsen elektronik lokal minta perlindungan dari investasi baru China



JAKARTA. Industri elektronik dalam negeri meminta perlindungan dari serangan investasi baru asal China. Pasalnya, perusahaan yang tergolong menggunakan teknologi tinggi (high tech) itu membidik pasar elektronik yang rendah teknologi (low tech).General Sales Manager PT Istana Argo Kencana, Hasan Dali, usai jumpa pers Asosiasi Merek Indonesia (AMIN), bilang, perusahaan merasa terancam dengan agresi tiga perusahaan elektronik asal China. Antara lain, TCL, Midea, dan Changhong.Ketiga perusahaan itu memiliki teknologi tinggi yang bisa merebut pasar elektronik pelaku usaha elektronik lokal yang lebih dulu eksis di Indonesia. "Kami cukup khawatir dengan masuknya investasi itu," ujarnya.Akibatnya, Sanken terpaksa merevisi pertumbuhan penjualan produknya pada tahun depan. Meski tidak menyebut besaran angka penjualan, tahun ini diperkirakan perusahaan itu bisa tumbuh sekitar 20%-25%. Angka itu kurang lebih akan menjadi target pertumbuhan penjualan pada tahun depan.Awalnya, perusahaan itu menargetkan bisa mencatatkan pertumbuhan sekitar 30% pada tahun depan. Namun, efek krisis global dan penerapan kebijakan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). "Tahun depan bisa sama dengan tahun ini saja sudah bagus," ungkapnya.Wakil Sekjen AMIN, Yeane Keet, menambahkan, masuknya investasi asing pada sektor elektronik yang sebenarnya telah diproduksi di Indonesia berpeluang mematikan tiga hingga empat perusahaan berjenis sama.Seharusnya, pemerintah membatasi investasi asing pada sektor tertentu dengan persyaratan tertentu. Misalnya, perusahaan asing yang berteknologi tinggi atau produsen yang menghasilkan produk berjenis premium yang belum diproduksi di pasar dalam negeri.Sayangnya, Yeane tidak mengantongi data kerugian akibat masuknya investasi asing. Indikator yang digunakan asosiasi beranggotakan 50 perusahaan dalam negeri itu hanya dari peningkatan nilai impor dalam beberapa tahun terakhir.Impor produk dari China pada 2006 disebut sebesar US$ 8,3 miliar. Angka itu meningkat menjadi US$ 21,7 miliar pada 2010."Industri lokal hanya minta penyeimbangnya karena perusahaan asing dapat banyak insentif dari negara asalnya," kata Ketua Umum AMIN, Putri K. Wardani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Rizki Caturini