JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada Sabtu (13/2) kemarin untuk pengiriman Maret mencapai US$ 29,44 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga minyak yang belum menyentuh level US$ 30 per barel ini membawa kekhawatiran apakah usaha hulu migas masih bisa bertahan di bawah harga minyak yang terus tertekan. Direktur Pembinaan Program Ditjen Migas Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi bilang harga minyak saat ini yang berkisar US$ 30 per barel sangat tipis dengan biaya produksi usaha hulu migas. Biaya produksi migas saat ini rata-rata sudah mencapai US$ 30 per barel, bahkan ada lapangan migas yang biaya produksinya mencapai US$ 50 per barel. Dengan begitu perusahaan migas saat ini cukup menderita dengan kondisi harga minyak yang rendah. "Hulu menderita, pemerintah tidak dapat apa-apa dong dari kegiatan usaha hulu. Pendapatan negara dari operasi kegiatan usaha hulu migas bisa nol," kata Agus di Dewan Pers, Minggu (14/2).
Produsen migas menderita, insentif belum diberikan
JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada Sabtu (13/2) kemarin untuk pengiriman Maret mencapai US$ 29,44 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga minyak yang belum menyentuh level US$ 30 per barel ini membawa kekhawatiran apakah usaha hulu migas masih bisa bertahan di bawah harga minyak yang terus tertekan. Direktur Pembinaan Program Ditjen Migas Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi bilang harga minyak saat ini yang berkisar US$ 30 per barel sangat tipis dengan biaya produksi usaha hulu migas. Biaya produksi migas saat ini rata-rata sudah mencapai US$ 30 per barel, bahkan ada lapangan migas yang biaya produksinya mencapai US$ 50 per barel. Dengan begitu perusahaan migas saat ini cukup menderita dengan kondisi harga minyak yang rendah. "Hulu menderita, pemerintah tidak dapat apa-apa dong dari kegiatan usaha hulu. Pendapatan negara dari operasi kegiatan usaha hulu migas bisa nol," kata Agus di Dewan Pers, Minggu (14/2).