KONTAN.CO.ID - BEIJING. Produsen robot China memamerkan teknologi dan produk terbaru mereka dalam World Robot Conference di Beijing, Rabu (19/8/2026). Industri robot China kini berupaya meyakinkan investor dan calon pelanggan bahwa teknologi tersebut semakin siap digunakan secara komersial dalam skala lebih luas. Lebih dari 300 perusahaan mengikuti konferensi yang berlangsung hingga Minggu (23/8). Menurut pemerintah Beijing, ajang tersebut menampilkan lebih dari 2.000 produk dan teknologi, serta meluncurkan lebih dari 150 produk baru.
Baca Juga: Indeks Kospi Ditutup Anjlok 5,8%, Catat Penurunan Terbesar dalam 3 Minggu Konferensi tersebut berlangsung ketika industri robotik menjadi salah satu medan persaingan baru antara China dan Amerika Serikat (AS). Di saat yang sama, antusiasme investor terhadap sektor robotik di China terus meningkat. Saham Unitree, salah satu produsen robot humanoid ternama China, bahkan melonjak hampir enam kali lipat pada debut perdagangannya di bursa Shanghai pada Rabu (19/8). Didorong Persaingan Setelah sukses melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang mengalami kelebihan permintaan hingga lebih dari 8.000 kali dari investor ritel, startup Lumos Robotics dan divisi robotik Chery Automobile juga menyatakan tengah mempertimbangkan untuk melantai di bursa saham.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Anjlok 3%, Aksi Jual Saham Teknologi Menyebar Dalam pembukaan konferensi, Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China Xin Guobin mengatakan pemerintah akan mendukung pengembangan industri robotik. Menurut dia, robotik telah menjadi "kekuatan penting" dalam perkembangan ekonomi dan sosial China, seperti dikutip media keuangan yang didukung pemerintah Cailianshe. Penggunaan robot di China memang terus meningkat, mulai dari mengantarkan makanan di hotel hingga membantu proses produksi di sejumlah lini perakitan. Namun, penggunaan robot dalam skala besar di luar proyek percontohan masih terbatas. Startup Robotera, misalnya, memamerkan robot humanoid untuk menyortir paket. Robot tersebut menggunakan tubuh berbasis roda tiga dan diklaim mampu beroperasi secara berkelanjutan selama 900 hingga 1.000 jam, dengan efektivitas sekitar 85% dibandingkan pekerja manusia. Pesatnya pertumbuhan industri robotik China dinilai menyerupai perkembangan industri kendaraan listrik beberapa tahun lalu. Saat itu, banyak perusahaan bermunculan dan bersaing secara agresif. "Sejumlah besar perusahaan robot bermunculan hampir dalam semalam," ujar Zhang Guibing, Kepala AiMOGA Robotics, divisi robotik Chery, kepada Reuters. Menurut Zhang, persaingan tersebut memiliki sisi positif karena mendorong perusahaan untuk mengembangkan teknologi dan kemampuan masing-masing. "Pada akhirnya, hal ini akan membantu memperdalam teknologi dan kapabilitas industri. Dari perspektif tersebut, saya pikir ini adalah hal yang baik," katanya.
Baca Juga: China Diprediksi Tahan Suku Bunga Kredit, Ekonomi Mulai Kehilangan Momentum Adopsi Masih Jadi Tantangan Data Smart Analytics Global menunjukkan pengiriman robot humanoid secara global hampir empat kali lipat pada semester I-2026 menjadi sekitar 19.100 unit. Produsen asal China mendominasi pasar tersebut. Namun, pertumbuhan produksi belum sepenuhnya mencerminkan tingginya penggunaan robot untuk aktivitas komersial. Analis robotik Georg Stieler memperkirakan sekitar 50%-70% robot humanoid yang diproduksi tahun ini berpotensi berakhir di "data factories", yakni fasilitas yang menggunakan robot untuk mengumpulkan data pelatihan, bukan untuk menjalankan pekerjaan produktif bagi pelanggan yang membayar.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan, Yield Tinggi dan Harga Minyak Gerus Selera Risiko Tantangan lainnya adalah persaingan harga yang semakin ketat. "Persaingan di pasar China dapat menjadi sangat ketat di masa depan, terutama dalam hal biaya," ujar Zhang. Dia memperkirakan robot humanoid membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk mencapai tingkat kematangan sebelum dapat memasuki fase adopsi secara cepat dan luas.