Profil Andy Burnham: Dari Wali Kota Manchester hingga Perdana Menteri Inggris



KONTAN.CO.ID -  Andy Burnham resmi menjadi Perdana Menteri Inggris setelah ditunjuk Raja Charles III untuk membentuk pemerintahan baru menggantikan Keir Starmer yang mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh (Labour).

Burnham menjadi perdana menteri ketujuh yang memimpin Inggris dalam kurun sedikit lebih dari satu dekade. 

Politikus berusia 56 tahun itu dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di wilayah utara Inggris hingga mendapat julukan "King of the North" atau "Raja dari Utara".


Baca Juga: Kapal Tanker Ditinggalkan Awak usai Diduga Terkena Proyektil di Selat Hormuz

Perjalanan Karier Andy Burnham

Andy Burnham merupakan politikus senior Partai Buruh yang telah lama berkiprah di pemerintahan Inggris.

Sebelum menjadi perdana menteri, ia pernah menduduki sejumlah jabatan penting di kabinet, termasuk sebagai Menteri Kesehatan, Menteri Kebudayaan, serta Menteri Pertahanan dalam pemerintahan sebelumnya.

Namun, nama Burnham semakin dikenal publik ketika ia meninggalkan politik nasional dan terpilih sebagai Wali Kota Greater Manchester.

Menurut laporan NBC News, posisinya sebagai wali kota membuat Burnham membangun citra sebagai pemimpin daerah yang vokal memperjuangkan kepentingan masyarakat, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan pelayanan publik. Dari sinilah reputasinya terus menguat.

Mengapa Dijuluki "King of the North"?

Burnham selama memimpin Greater Manchester, yang berada di wilayah Utara Inggris, dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan desentralisasi pemerintahan.

Ia berulang kali menyerukan agar pemerintah pusat memberikan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah daerah sehingga kebijakan publik dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam pidato menjelang pelantikannya, Burnham berjanji akan "mengembalikan kekuasaan dari pemerintah kepada rakyat" serta membangun budaya politik baru yang lebih dekat dengan masyarakat.

Ia juga ingin memperbaiki berbagai kebijakan yang menurutnya mulai menyimpang sejak dekade 1980-an ketika kekuasaan politik semakin tersentralisasi dan banyak sektor ekonomi diprivatisasi.

Baca Juga: AS Rampungkan Gelombang Terbaru Serangan ke Iran, Sudah 10 Malam Berturut-turut

Prioritaskan Pemulihan Ekonomi Inggris

Tantangan pertama yang dihadapi Burnham adalah memulihkan kondisi ekonomi Inggris yang masih dibayangi krisis biaya hidup.

Dalam pidato pertamanya sebagai perdana menteri, Burnham berjanji menghadirkan kebijakan yang dapat memberi "ruang bernapas" bagi masyarakat.

Ia juga menyebut salah satu instruksi pertamanya adalah mengakhiri masalah tunawisma di Inggris serta menyiapkan peta jalan pembangunan nasional selama 10 tahun ke depan.

Meski demikian, Burnham menegaskan pemerintahannya tidak akan mengorbankan disiplin fiskal demi menjalankan berbagai program tersebut.

"Saya tidak pernah mengambil risiko terhadap ekonomi dalam jabatan apa pun yang pernah saya emban. Saya selalu mengambil pendekatan yang sangat hati-hati," kata Burnham, dikutip Reuters.

Dalam menjalankan misinya itu, Burnham memastikan akan tetap mematuhi aturan fiskal yang telah berlaku, termasuk menjaga keseimbangan anggaran dan tidak mengambil kebijakan yang berisiko terhadap stabilitas ekonomi Inggris.

Ia juga mengatakan pemerintah sedang merampungkan sejumlah kebijakan jangka pendek untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup, meski belum merinci bentuk bantuannya.

Baca Juga: FIFA Selidiki Insiden Ricuh Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia

Tantangan sebagai Perdana Menteri Inggris

Andy Burnham memulai masa jabatannya di tengah situasi yang tidak mudah. Ia harus mengatasi krisis biaya hidup, memperbaiki layanan National Health Service (NHS), menangani persoalan imigrasi, serta menghadapi meningkatnya dukungan terhadap Reform UK, partai sayap kanan yang dipimpin Nigel Farage.

Di bidang luar negeri, Burnham juga harus menjaga hubungan strategis Inggris dengan Amerika Serikat.

Ia juga memiliki tugas penting untuk mempertahankan dukungan kepada Ukraina, sekaligus memperkuat kerja sama dengan negara-negara Eropa.

Ia pernah menyatakan berharap Inggris suatu saat dapat kembali bergabung dengan Uni Eropa, meski menegaskan langkah tersebut bukan prioritas pemerintahannya saat ini.

Sikap Andy Burnham terhadap Israel dan Gaza

Selain ekonomi, pandangan Burnham mengenai konflik Timur Tengah juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan luar negeri Inggris.

Laporan Jewish Telegraphic Agency (JTA) menyebut Burnham selama bertahun-tahun membangun hubungan yang cukup erat dengan komunitas Yahudi di Inggris, terutama saat menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester yang memiliki salah satu populasi Yahudi terbesar di Eropa.

Ia secara konsisten mengecam antisemitisme, menghadiri berbagai peringatan Holocaust, serta bekerja sama dengan organisasi-organisasi Yahudi.

Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir Burnham juga semakin vokal mengkritik operasi militer Israel di Gaza.

Menurut JTA, ia mendorong Inggris meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Israel, termasuk mempertimbangkan pembatasan ekspor senjata dan tindakan terhadap permukiman Israel di Tepi Barat yang dianggap melanggar hukum internasional.

Meski demikian, Burnham tidak menyebut tindakan Israel sebagai genosida. Ia menilai penilaian tersebut harus diputuskan oleh lembaga peradilan internasional.

Baca Juga: Houthi Umumkan Blokade Laut Terhadap Arab Saudi