KONTAN.CO.ID - CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, tidak hanya hadir sebagai pengusaha dalam delegasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke China pekan ini, tetapi juga sebagai simbol kekuatan teknologi AS. Kehadirannya di Beijing menandai babak baru dalam hubungan diplomatik ekonomi antara kedua negara. Melansir dari Reuters, Musk bergabung dalam tim kecil yang terdiri dari 16 eksekutif elit untuk memecah kebuntuan perdagangan.
Latar Belakang dan Masa Muda
Mengutip dari Britannica, Elon Reeve Musk lahir pada 1971 di Pretoria, Afrika Selatan. Sejak usia 12 tahun, ia sudah menunjukkan bakat luar biasa dengan membuat gim komputer sendiri bernama Blastar yang berhasil ia jual seharga US$ 500. Pada 1988, ia memutuskan meninggalkan Afrika Selatan untuk menghindari wajib militer di bawah sistem apartheid dan mencari peluang ekonomi yang lebih besar di Amerika Utara. Perjalanan akademisnya dimulai di Queen’s University, Ontario, sebelum akhirnya pindah ke University of Pennsylvania. Di sana, ia meraih dua gelar sarjana sekaligus, yakni di bidang ekonomi dan fisika. Musk sempat diterima di program doktoral fisika energi di Stanford University pada 1995, namun ia memilih keluar hanya setelah dua hari karena melihat potensi besar internet yang saat itu sedang mulai meledak.Jejak Karier dan Gurita Bisnis
Berdasarkan informasi dari Encyclopedia.com, kesuksesan finansial pertama Musk datang dari Zip2, perusahaan penyedia peta daring yang dibeli oleh Compaq senilai jutaan dolar pada 1999. Uang tersebut ia gunakan untuk mendirikan X.com, yang kemudian bertransformasi menjadi PayPal sebelum akhirnya diakuisisi oleh eBay. Berikut adalah rincian profil profesional dan pencapaian Musk:- Nama Lengkap: Elon Reeve Musk
- Tempat, Tanggal Lahir: Pretoria, Afrika Selatan, 28 Juni 1971
- Pendidikan: S1 Fisika dan S1 Ekonomi dari University of Pennsylvania
- Jabatan Utama: CEO Tesla, CEO SpaceX, Pemilik X (Twitter), Pendiri Neuralink dan The Boring Company
- Pencapaian: Memimpin peluncuran Falcon 1 dan Falcon 9 melalui SpaceX, serta mendisrupsi industri otomotif global melalui kendaraan listrik Tesla.
Misi di Beijing: Tesla dan Mineral Tanah Jarang
- Perpanjangan gencatan senjata tarif untuk komponen teknologi tinggi.
- Integrasi teknologi Full Self-Driving (FSD) di pasar China yang membutuhkan regulasi data ketat.
- Stabilitas investasi jangka panjang di tengah persaingan ketat dengan merek EV lokal seperti BYD.